Terdengar suara tangisan bayi di rumah sakit Prontera yang megah. Tepatnya, di depan rumah sakit itu.
Bayi mungil tak berdosa, sedang menangis di depan rumah sakit itu, menarik perhatian seorang perawat dan dokter yang kebetulan mendengarnya.
Ketika digendong oleh sang perawat, bayi itu tidak menangis lagi, melainkan tersenyum memamerkan gigi taringnya yang panjang. Dan membuka matanya.
Bola mata yang berwarna merah darah menatap mereka dengan senang, sebagaimana tatapan polos seorang bayi terhadap sang orang tua.
Berambut kuning pucat, berkulit putih pucat, bermata merah, dengan taring yang menghiasi bibir mungilnya.
Perawat dan dokter itu saling bertatapan, kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepala mereka
“Siapa anak ini?”
“Siapa orang yang tega membuangnya?”
“… Kenapa mata anak ini berwarna merah darah…?”
Dan yang lebih menarik perhatian mereka…
Palu dewa yang terbaring di sebelah bayi itu, yang hanya muncul di buku cerita.
Mjollnir.
Lalu…