Terdengar suara tangisan bayi di rumah sakit Prontera yang megah. Tepatnya, di depan rumah sakit itu.
Bayi mungil tak berdosa, sedang menangis di depan rumah sakit itu, menarik perhatian seorang perawat dan dokter yang kebetulan mendengarnya.
Ketika digendong oleh sang perawat, bayi itu tidak menangis lagi, melainkan tersenyum memamerkan gigi taringnya yang panjang. Dan membuka matanya.
Bola mata yang berwarna merah darah menatap mereka dengan senang, sebagaimana tatapan polos seorang bayi terhadap sang orang tua.
Berambut kuning pucat, berkulit putih pucat, bermata merah, dengan taring yang menghiasi bibir mungilnya.
Perawat dan dokter itu saling bertatapan, kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepala mereka
“Siapa anak ini?”
“Siapa orang yang tega membuangnya?”
“… Kenapa mata anak ini berwarna merah darah…?”
Dan yang lebih menarik perhatian mereka…
Palu dewa yang terbaring di sebelah bayi itu, yang hanya muncul di buku cerita.
Mjollnir.
— 10 tahun kemudian —-
“Heii!!! Jangan lari kau pengecut!!!” seru seorang anak perempuan yang kurang lebih masih dalam masa anak-anaknya, mungkin berumur 9-11 tahunan.
Sepertinya terdengar sedang bermain-main saja… Apabila kita mengenyampingkan suara-suara benturan antara senjata dan tanah…
“An-angel!! Aku bersumpah tidak akan mengacau gereja lagi!! Benar!! Percayalah padaku!!” seru seorang anak laki-laki berambut biru berseragam Novice, berlari, berusaha menghindari serangan dari sang anak perempuan yang dipanggilnya ‘Angel’
Angel- perempuan berpakaian kasual, sepertinya belum mendaftar menjadi Novice. Sedang mengejar anak laki-laki tersebut sambil mengayunkan palu besar, yang kurang sesuai untuk tubuhnya.
“ANGEL!! SUDAH AKU KATAKAN, JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN MJOLLNIR!!” seru seorang wanita berpakaian
Priestess. Rambutnya yang biru lurus dimainkan oleh angin Prontera yang sejuk. Ia mendatangi Angel yang juga sedang berlari sambil membawa palu raksasanya itu mendatangi sang Priestess.
“Kyle-senpai~” ujar Angel sambil memeluk Priestess itu, Mjollnir-nya ia letakkan di lantai kota prontera sehingga membuat sedikit lantai itu retak
“Hmm… Angel merusakkan lantai Prontera lagi… Kira-kira berapa biaya yang harus kukeluarkan lagi…”
“Kyle-senpai, kira-kira kapan aku bisa mendaftar jadi Novice?” tanya Angel antusias, sedangkan anak laki-laki yang barusan dikejarnya sudah kabur ketakutan.
“Masih 2 tahun lagi… Sabarlah sedikit Angel, memangnya kau mau belajar apa?” tanya Priestess yang dipanggil Kyle.
“Aku mau jadi Priestess seperti Kyle-senpai!! Dengan senjataku ini, aku akan meluruskan pikiran orang jahat!!” serunya bersemangat, sambil mengangkat Mjollnir-nya tinggi-tinggi, membuat orang yang lewat kebingungan.
“Angel, kau kemana-mana membawa palu itu… Apa tidak berat?” tanya Kyle ke Angel.
Angel menggeleng. “Tidak sama sekali, seperti membawa senjata biasa” jawabnya.
Angel memang agak aneh… Kekuatannya melebihi anak kecil seumurannya. Daya tahannya… Kecepatan… Kekuatan… Akurasi…”
“Sayangnya… Dia tidak bisa satupun sihir penyembuhan, aku pernah menyuruhnya mencoba sihir healing, tapi yang ada malah membuat luka semakin parah” Kyle membatin.
“Angel, masuk dulu yuk, udaranya makin dingin” tawa Kyle sambil menggandeng Angel kecil masuk kembali ke dalam gereja.
“Baik, Kyle-senpai” jawab Angel dengan wajah berseri-seri, memamerkan gigi taringnya yang tajam.
Angel masuk ke gereja dengan tangan yang digandeng Kyle. Angel sangat menyayangi Kyle yang menerimanya untuk diasuh, terlebih lagi ialah yang mengenalkan Angel pada anak-anak lainnya yang mau berteman dengan Angel dengan tulus, tanpa mempersoalkan perbedaan. Angel bersumpah, ia akan melenyapkan orang-orang yang mengganggu kebahagian mereka.
Angel, Kyle, teman-temannya.
Tidak diduga oleh Angel, rasa hangat yang dirasakannya dari tangan Kyle hari itu merupakan terakhir kalinya…
Sampai pada keesokan harinya…
“Huaaaah!!! Lelah main di luar. Kyle-senpai!! Minta minum dong!!” seru Angel sambil menenteng Mjollnir-nya masuk ke dalam gereja.
Tidak ada jawaban.
“Kyle-senpai…?” tanya Angel, ke siapapun. Angel merasakan firasat buruk, tangannya menggenggam gagang Mjollnir-nya dengan kuat, ia berjalan ke arah dimana Kyle sering berada.
Perpustakaan gereja.
“Kyle-senpai… Jangan sembunyi dong” ujarnya ketika masuk ke dalam perpustakaan, celingukan mencari adanya seseorang.
Coba aku ke kamarnya Kyle-senpai…” batin Angel khawatir, ia berjalan ke arah kamar Kyle, tiba-tiba, tercium bau yang asing baginya.
“Bau apa ini…?”
“Kyle-senpai?” tanya Angel ketika ia membuka pintu kamar Kyle.
Pemandangan yang menyedihkan di ruangan itu, seorang pria mengenakan seragam Knight berdiri dengan pedang
penuh darah, dan ketika Angel melihat lagi, ia melihat tubuh orang yang sangat disayanginya sudah terkapar di lantai kamarnya…
… Dengan kepala terpisah dengan badannya, darah menggenang di sekitarnya, membuat Angel langsung masuk.
“KYLE-SENPAI!!!” teriaknya sambil berlari menuju jasad Kyle, merasakan firasat buruk, instingnya langsung membuatnya berguling ke samping, membuat tebasan sang Knight tidak mengenai satupun helai rambutnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN KYLE-SENPAI!!” teriak Angel penuh amarah, air matanya mengalir di pipinya.
“Cih, yang dimaksud ‘makhluk berbahaya’ itu anak kecil ini?” tanya sang Knight dengan nada meremehkan, “Yang begini mah… Bisa kubunuh dalam satu tebasan, tadi dia hanya beruntung”
“AKU TIDAK TANYA ITU!! KENAPA KAU ADA DI SINI!?! APA TUJUANMU!!” tanya Angel, tanpa rasa takut sedikitpun terhadap sang Knight.
“ANAK KECIL BRENGSEK!! BIAR KUSOBEK MULUTMU YANG BAWEL ITU!!” balas Knight itu dengan kesal karena merasa diremehkan sambil menebaskan kembali pedangnya, lagi-lagi dihindari oleh Angel.
“… Kau…” geram Angel, ia mengambil Mjollnir miliknya.
“Huh? Bisa apa kau de-”
BUAGH!!
Belum sempat Knight itu menyelesaikan kalimatnya, bagai ditimpa dengan batu godam.
Mjollnir Angel menghantam tubuh Knight itu sampai terlempar menabrak dinding.
“A-akh…” erang sang Knight, ia baru saja mau bangun, tiba-tiba dia dihantam lagi dengan Mjollnir.
“AAAARGH!!!” erangnya kesakitan, sepertinya hantaman kedua Angel membuat beberapa tulangnya patah.
“Belum seberapa… Ini tidak sebanding dengan penderitaan Kyle-senpai…” gumam Angel, tersenyum sinis, taringnya benar-benar mencolok.
Angel menyerang Knight itu dengan membabi buta, tanpa memberi kesempatan pada sang Knight untuk membalas, cipratan darah menghiasi dinding ruangan tersebut yang putih.
Setengah jam kemudian, suara hantaman Angel menghilang. Yang menjadi korban amukan Angel sudah nyaris tidak berbentuk, tangan dan kakinya hancur karena hantaman Mjollnir.
“Yang terakhir…” gumam Angel sambil mengambil pedang Knight tersebut yang berat, namun bukan masalah untuknya.
Ia mengangkat pedang itu, lalu memotong leher tubuh Knight yang sudah tidak bernyawa lagi, membuat darah menggenang, membuat karpet yang semulanya berwarna biru-putih menjadi merah darah.
“Kyle-senpai… Aku anak baik kan? Aku sudah membalaskan dendam Kyle-senpai…” gumam Angel.
Ia tahu, ia sadar bahwa semuanya sudah tiada, sepertinya Knight tadi membunuh seluruh orang yang berada di Gereja saat itu, memang kebetulan tempat itu sedang sepi karena kebanyakan dari mereka diutus ke Umbala untuk memberitakan Injil ajaran FOdin.
“Aku sudah tidak pantas lagi di tempat ini…” gumam Angel, sambil meninggalkan gereja itu dengan pakaiannya yang dilumuri darah, dan Mjollnir-nya.
Oktober 7, 2007 pukul 1:41 pm
Komen…
Hmm… Knight yang itu entah kenapa mengingatkan saya pada Sakray di manhwa Rangarok.
Baik, mungkin perubahan sikap yang tiba-tiba pada Angel saja yang agak kurang, menurut saya. Sewaktu Kyle dibunuh oleh Knight.
Oktober 7, 2007 pukul 1:44 pm
Gila… Fanfic penuh darah.
Yah, kritikku baru itu sih. Yang tadi sudah disebutkan di Y!M.
Oktober 10, 2007 pukul 3:02 am
…sadis…
Eh, engga deng
Cuma penuh darah aja
Desember 31, 2007 pukul 8:24 am
Keren, Celcchi > w >
Tulisan ini dikirim pada pada Oktober 7, 2007
…
Saya telat baca.. TT w TT