Should I…?

By dreamcreator

Seorang Priestess berumur kurang lebih 20 tahun dengan rambut kuning pucat dan mata merah, serta ekspresi cuek yang menghiasi tampangnya sedang bersender di pilar di sekitar kolam Morroc.

Tempat yang cukup ramai oleh anak-anak karena di sana ada seorang penjual es krim, yang menjawab semua keinginan anak-anak di Morroc yang panas.

Lain dengan Angel… Yang lebih mengingingkan masuk ke dalam kulkas atau pindah ke Lutie sekarang juga, siang hari di Morroc memang benar-benar menyiksa, apalagi kalau diberi tugas untuk mengeliminasi seseorang, sengsaranya jadi dua kali lipat.

Gilaa… Apa tidak ada kerjaan lain yang diberikan Asosiasi Assassin di Morroc selain memata-matai dan membunuh?” Keluh Angel sambil mengingat-ingat tugas yang dari dulu diberikan Asosiasi Morroc kepadanya, “… Tapi aku masih beruntung, daripada diutus ke Umbala untuk menyebarkan ajaran Odin”.

“Kalau boleh, aku mau tidur di hotel Morroc saja sekarang”, gumamnya ke dirinya sendiri, lalu seketika itu juga, ada tangan yang menepuk bahu Angel.

“Angeel… Jangan kabur kauuu…” Ujar seseorang yang menepuk bahu Angel, sepertinya seorang wanita berumur 17 tahun.

Angel menengok ke arah orang yang menepuk bahunya, ia mengenali sosok gadis berambut panjang dan coklat itu.

“Riff? Kau yang jadi partner-ku kali ini rupanya”, respon Angel pendek.

“A-apa-apaan sih?! Aku tahu aku ini baru saja lulus jadi Assassin kemarin!! [Angel : "Iya, dengan nilai super pas-pasan"] Lagipula aku ini masih muda, masih banyak waktu untuk menjadi seorang Assassin Cross legendaris!!” Riff berseru dengan semangat membara, membuat Angel melihatnya dengan tampang heran.

“Kalau kau ada waktu untuk bermain-main, kenapa tidak kau selidiki lokasi target kita kali ini? Kurasa itu bisa membantuku untuk mengeliminasi-nya dengan cepat”, ujar Angel dengan tampang dinginnya, yang membuat Riff makin kesal.

“Aku sudah berkali-kali mencari informasi!! Sekali-sekali aku mau mengeliminasiii!!!” Riff kembali berteriak, membuat anak-anak kecil yang mengantri untuk membeli es krim memperhatikan Riff, Angel menghela nafasnya.

“Jangan pernah meremehkan yang namanya mengeliminasi, baru bisa menggunakan Katar saja sudah sombong, lebih baik kau asah akurasi-mu yang buruk itu, minimal kau bisa menyentuhku, baru boleh mengeliminasi”, jelas Angel ke Riff yang sekarang menggembungkan kedua pipinya, tanda kalau dia sedang ngambek.

“Angel licik… Aku tahu kalau kau ini merupakan satu-satunya anggota di luar Asosiasi Assassin yang merupakan favorit ketua, siapa yang bisa menyangka, seorang Priestess bisa dijadikan eraser sekaligus mata-mata.” Sifat jeleknya Riff kembali lagi, menyindir Angel dengan tatapan ‘dasar-Priestess-sesat’.

“Aaah… Sekali lagi kau berkata seperti itu, mungkin kau bisa mencicipi hantaman Mjollnir”, balas Angel terhadap tatapan menyindir Riff, yang dilanjutkan dengan ekspresi kaget yang diterimanya dari wajah Riff.

“Angel kok gak bisa diajak bercanda sih, Riff kan cuma bercanda…~” Riff menatap Angel dengan ‘puppy-eyes’ mautnya, yang sebenarnya tidak ampuh sama sekali untuk Angel yang kebetulan tidak punya hati [*pengarang diinjek oleh Angel*]

“Sudahlah, aku mau lihat seperti apa sih target kali ini…”

“Oh iya, Riff, kali ini tugas kita bukan pengeliminasian, hanya sekedar memata-matai”, peringat Angel sebelum Riff melakukan hal yang ‘aneh-aneh’

“Iya-iya, Kaizerz of The Moon kan??” Konfirmasi Riff. “Akan kuselidiki secepatnya!”

Riff langsung menghilang, sepertinya ia sudah melompat-lompat di atas atap perumahan yang penduduknya sudah terbiasa dengan suara langkah kaki di atas rumah mereka. Selain Riff, masih banyak Thief dan Assassin yang melakukan hal yang sama juga. Walaupun suara langkah Assassin nyaris tidak terasa, tapi lain untuk seorang Riff.

“… Kaizerz of The Moon… Monk ahli combo dengan kecepatan yang cukup menakjubkan, bahkan ketua juga cukup berhati-hati dengan Monk ini, lebih baik tidak cari masalah dengan gadis ini”, batin Angel sambil melihat catatan yang diberikan oleh orang yang sama dengan yang Riff sebut ‘ketua’ sebelumnya.

Angel lalu keluar menuju padang pasir Sograt, tepat di luar kawasan kota Morroc.

– Padang Pasir Sograt —

Tidak ada yang bisa dideskripsikan selain hamparan pasir yang luas, dengan kaktus-kaktus berwarna hijau yang menghiasi padang pasir itu. Beberapa Jelly berwarna kuning-oranye yang berlompatan kesana-kemari, anak ayam kecil yang berlarian, dan burung pemakan bangkai yang bertengger di atas kaktus.

“Angel, Priestess misterius dengan kekuatan, kecepatan, akurasi, daya tahan melebihi manusia.”

Angel langsung menengok kebelakang, tidak ada siapa-siapa.

“Hei, di semua pertarungan, perhatikan punggungmu.”

Angel berbalik lagi, mengangkat Mjollnirnya dan menjadikannya perisai untuk melindunginya dari serangan jarak dekat dan menimbulkan percikan listrik. [Note. Mjollnir itu pada dasarnya berelemen listrik/wind ^^]

“Kaizerz of The Moon! Moonfist! Angel, aku menantangmu!” Sang penyerang itu berseru sambil menunjuk Angel, tidak disangka-sangka, target mereka kali ini malah menampakkan dirinya. Monk dengan rambut keemasan pendek dan bermata coklat serta Monk Hat yang dipakai di kepalanya.

Hening sesaat.

“Teleport!!”

Angel merapalkan mantra perpindahan lokasi dengan cepat, meninggalkan Monk yang mengaku bernama ‘Moonfist’ sendirian. Angel terlalu malas untuk merepotkan diri dengan bertarung satu-lawan-satu dengan seseorang, apalagi dengan seseorang yang tidak diragukan lagi kekuatannya.

“… Kemana dia?” Sang Monk kebingungan, ia melihat ke sekitar, dan menemukan bayangan yang sedang berlari, tidak lain adalah Angel.

“BODY RELOCATION!!” Moonfist langsung bergerak dengan cepat menuju bayangan yang sedang berlari itu.

“Increase Agi…” Samar-samar Moonfist bisa mendegar rapalan mantra itu ke dirinya, sebagai seorang manusia biasa, tentu ia akan bingung.

“Eh?? Untuk apa dia merapalkan mantra ini” Moonfist membatin, sebelum efek dari mantra itu bekerja.

BRUK!

Tiba-tiba Moonfist terjatuh dan tidak bisa bangun. Sebagai seseorang yang selalu mencari tahu tentang orang-orang yang terkuat, ia baru ingat satu hal penting yang ia kira bisa menjadi kunci kemenangan untuk pertarungan satu-lawan-satu dengan Angel.

["... Tidak bisa menggunakan mantra pendukung dengan benar, seringkali membawa bencana bagi para target..."]

“Siaaallll!!!!” Moonfist berteriak, menunggu kapan otot-ototnya cukup kuat untuk membuatnya bisa kembali berdiri.

— Perbatasan Morroc – Payon — Surga Poring —

“Sial… Tidak disangka-sangka, dia menampakkan dirinya”, gumam Angel sambil duduk di bawah pohon, bersantai dan menikmati angin semilir yang membuat rasa lelah akibat berlarian menghilang.

“Jadi ngantuk…”

Tanpa pertahanan apa-apa, Angel menyandarkan diri di pohon itu, dan beristirahat…

Tiba-tiba seorang pria berseragam Assassin muncul, lalu berjongkok di depan Angel yang tertidur.

Assassin itu terdiam, lalu mencolek pipi Angel.

BUAGH!

Tangan Angel langsung bergerak menyerang Assassin itu, saat itu juga, sang Assassin mental ke pohon terdekat, membuat buah yang mirip dengan kelapa itu jatuh menimpa kepala sang Assassin.

“Mau apa kau kemari? Ketua mau menyampaikan sesuatu?” Angel berdiri dan mengambil Mjollnirnya, membantu Assassin yang menjadi korban jatuhnya sesuatu yang mirip kelapa itu bangun.

“Dia tidak bersamamu?” tanya sang Assassin, mencari orang yang seharusnya bersama Angel.

“Tidak, kenapa?”

“Baguslah, sesuai dugaan ketua…”

“Hah? Memangnya kenapa?”

“Ketua menyuruhku menyampaikan ini, Moonfist hanyalah target pemancing, sebenarnya target sebenarnya itu dia”

Angel menerima kertas berisikan data sang target.

“… Kau tidak bercanda kan?” Angel bertanya sambil melihat kembali kertas tersebut.

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?”

“BODOH!! Kali ini aku tidak akan menyelesaikan misi dari ketua, beritahukan itu pada ketua!”

“Kalau kau tidak menjalankannya, maka…”

“Aku yang akan jadi target?”

“Bukan, tapi orang ini”

Sang Assassin mengeluarkan foto seseorang yang sangat tidak asing bagi Angel, membuat Angel terkejut.

“Da-darimana…”

“Lakukan. Atau dia mati. Itu pesan ketua”

“Cih…”

Angel meremas kertas data sang target itu, membuangnya ke daratan dan menginjaknya.

“Kau mau dia yang dijadikan target?” Tanya sang Assassin.

“Aku akan melakukannya…”

“Bawa dia ke hadapanku”

“Haruskah aku…?”

— Morroc —

“Dimana sih target itu!! Kucari daritadi tidak ketemu juga!!”

Riff, duduk di atas atap perumahan sambil berteriak tidak karuan, melepaskan segala kekesalan di pikirannya.

Semenjak ia ‘diusir’ oleh Angel, ia tidak menemukan satupun petunjuk mengenai targetnya, tanpa mengetahui bahwa sang target sendiri sudah bertatap mata dengan Angel.

“Riff…”

Riff menengok ke sekitar, “Angel!!”

Riff langsung melompat ke bawah, dan bertanya, “Angel, bagaimana?”

Angel muncul, dengan ekspresi dingin, ia melakukan tanda isyarat dengan tangannya yang menyuruh Riff ikut.

Jelas itu membuat Riff kebingungan, namun tidak berani bertanya. Ia belum pernah melihat Angel seperti ini.

Angel tetap berjalan, keluar dari kawasan kota Morroc, lalu berjalan seperti tanpa arah.

“Angel, mau kembali ke Prontera?” tanya Riff.

Hening, tidak ada jawaban.

“Angel…?”

Tanpa suara, Angel memukul perut Riff dengan gagang Mjollnirnya, seketika itu juga Riff kehilangan kesadarannya.

“Kerja bagus”

Sang Assassin muncul dengan beberapa temannya, kurang lebih 15, ketika salah satu temannya hendak menyentuh tubuh Riff yang tidak berdaya itu, Angel langsung menghentikannya dengan lemparan Shuriken yang sering dibawa Riff.

“… Ada apa?” tanya sang Assassin.

“Huh, tugasku hanya membawa target ke kalian, berarti sekarang tugasku sudah selesai.” Angel mengangkat Mjollnir-nya.

“Ka-kau…”

“Nah… Sekarang waktuku mengeliminasi kalian”

5 Tanggapan ke “Should I…?”

  1. bakebake Berkata:

    Bingung, si Mjollnir-wielder itu sebenarnya mihak siapa sih?

  2. Master Courius Berkata:

    well… well… well….. berurusan dengan iblis maka bersiap siaplah menerima neraka…. kurasa itu paling cocok buat kali ini….

    Angel ga pernah memihak siapapun pada dasarnya… dia hanya memihak hatinya (itupun klo emank punya hati) … pada dasarnya dia memang seringkali bekerja sendiri…. (kecuali kali terakhir ada seorang Creator Sinting menemaninya)

  3. celotehsaya Berkata:

    poesing liat begitoe banjak nama import…lain kali bikin pan-pik kerim mpoe gandring adja degh…

    @___@

  4. Ah, sayang… « r o z e n e s i a Berkata:

    [...] itu aku, pemilik blog ini. Dan saRa itu pemilik blog itu. Jangan banyak perotes, apalagi buat para fansku. Yang sabar ya nerima kenyataan. Hidup ini keras, [...]

  5. GunawanRudy[dot]Com» Blog Archive » Ah, sayang… Berkata:

    [...] itu aku, pemilik blog ini. Dan saRa itu pemilik blog itu. Jangan banyak perotes, apalagi buat para fansku. Yang sabar ya nerima kenyataan. Hidup ini keras, [...]

Tinggalkan Balasan