A Life that Full of Blood

By dreamcreator

— Padang Pasir Sograt —

Sang Assassin tertawa kecil.

“Jangan meremehkan ketua, dia sudah memperkirakan bahwa kau akan menyerangku, maka dari itu…”
“Semuanya! Serang dia”

Para Assassin itu melesat ke arah Angel dengan kecepatan yang tinggi, diperintah Assassin yang sepertinya merupakan ketua dari kumpulan Assassin itu.

“Humph…”

Angel langsung melompat ke atas guna menghindari tebasan Katar yang datang bertubi-tubi.

“D-diia di atas!!” Seru seseorang di antara mereka.

Angel hanya tersenyum tipis, ia mendarat di belakang salah satu Assassin tersebut.

“Perhatikan punggungmu, itu peraturan dasar dalam sebuah pertarungan.”

Angel menghantamkan Mjollnir-nya ke arah punggung salah satu Assassin tersebut hingga Assassin itu memuntahkan darah dari mulutnya dan tumbang.

Semuanya terkejut, beberapa di antaranya bahkan ada yang tidak bergerak, takut untuk maju.

Takut untuk kehilangan nyawanya lebih cepat, di tangan Angel.

“Hei,
mana yang tadi mau menyerangku??” Angel menantang mereka semua sambil membuat isyarat tangan menantang, dengan jeda 1 detik, mereka langsung melesat lagi menuju Angel.

Dikeroyok seperti itu, bukannya panik, Angel malah mengangkat Mjollnirnya ke udara.

Tiba-tiba angin berhembus ke arah Angel, langit menjadi gelap, angin yang berhembus semakin dingin.

“KALIAN SEMUA MENJAUH!!!” Sang Assassin memerintah sambil melompat menjauh.

Tapi, mereka yang refleknya tidak sehebat sang ketua terlambat melompat.

Kilat mulai terlihat, suaranya yang menggelegar membuat bulu kuduk berdiri. Perhatian semuanya tertuju pada langit.

“Yang mencari masalah dengan iblis… Akan menemui ajalnya dalam waktu dekat”
“Menangislah… Mjollnir…”

“O gatekeeper of the sanctified realm…
Retribution awaits those who defile thy home…”

“ANGELIC THUNDER”

Angel menghantamkan Mjollnir-nya ke tanah sehingga menimbe yang menyambar para Assassin yang kurang beruntung tersengat listrik hingga kehilangan nyawanya. Banyak jeritan memilukan yang terdengar, bagaikan neraka di atas bumi. Beberapa ekor Condor kaget sehingga terbang menjauhi tempat itu, begitu pula dengan para Drops, walaupun beberapa diantaranya menjadi korban amukan Mjollnir.

“Ti-tidak mungkin…” Assassin ketua tersebut menatap anggota-nya yang tewas karena sengatan listrik dari petir. Dia sepertinya cukup beruntung untuk dapat menghindari kilatan petir dan hanya tersengat sedikit. Ia berusaha untuk kabur dengan menggunakan Butterfly Wing, tapi sebelum ia sendiri dapat merogoh kantongnya, Mjollnir Angel menghantam tubuhnya sehingga terpental ke batu yang besar, dan memuntahkan darah dari mulutnya.

“Hehehe… Kau tidak mungkin kubiarkan untuk melaporkan ini… Lagipula, sayang sekali bila kehilangan salah satu mangsa…”

Angel tertawa, tawa sadis yang merasa puas korbannya menderita.

“An-Angel, he-hentikan… Aku janji aku tidak akan melaporkan ini ke ketua…” Assassin tersebut berkata, dan berusaha berdiri.

“Cih, mana bisa kulakukan.” Angel tersenyum sinis.
“Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini…”
“Bye-bye~”

Hantaman Mjollnir yang terakhir memutuskan tali kehidupannya. Terdengar suara retakan tulang yang keras, sepertinya beberapa tulang rusuknya patah karena kekuatan Angel, ditambah ia dihimpit oleh batu besar dan Mjollnir. Ah, bukan patah sepertinya, melainkan… Hancur.

“Cih, bajuku kena darah, bisa-bisa aku tidak diizinkan masuk ke dalam Prontera”
“Lebih baik aku bawa gadis kecil ini ke kota dahulu…”
“Loh? Kemana dia…?”

Riff menghilang, Angel celingukan mencari-cari Riff.

“Seharusnya Riff belum bisa berjalan di atas pasir tanpa meninggalkan jejak… Tapi kenapa tidak terlihat jejak kakinya?” Angel kebingungan.
“Aah… Apa mungkin… Diculik? Tapi tidak mungkin juga, sebab aku tidak merasakan ada orang lain yang datang tadi…”
“Masa menghilang? Memangnya diculik hantu? Itu mah lebih tidak mungkin lagi”

Terpaksa Angel harus mencari Riff, meninggalkan beberapa tubuh tak bernyawa yang gosong karena sengatan listrik dan satu tubuh tak bernyawa karena hantaman Mjollnir itu di atas pasir padang pasir Sograt yang ikut menyaksikan tangisan Mjollnir.

— Prontera —

“Nona Angel… Sepertinya anda jadi pelanggan tetap penginapan ini.”

Seorang pria setengah baya yang memakai baju pelayan menyapa Angel yang dibalas dengan tatapan dingin, sepertinya sang pelayan sudah sering mendapatkan seperti itu.

Angel melihat ke sekitar, tembok yang dicat krem yang dihiasi dengan berbagai lukisan yang indah, lalu meja dan kursi kayu yang ditata dengan rapi, tidak tertingal meja resepsionis yang ditempati oleh wanita manis. Hotel tiga lantai yang rapi, pikir Angel.

“Aku mau mencuci bajuku, berapa?” Angel merogoh kantong bajunya untuk mengambil uang.

“1.500 zenny, nona. Ditambah dengan biaya penginapan, semuanya 6.500 zenny,” jawab sang pelayan, Angel langsung memberikan selembar uang kertas berwarna biru, selembar lainnya yang berwarna merah dan 5 koin. Lalu mengambil salah satu kunci kamar yang tergantung di belakang wanita resepsionis tersebut.

Lalu Angel naik ke lantai dua penginapan itu dan mencari kamarnya sesuai dengan nomor di kunci tersebut.

“104… 104…” Angel bergumam sembari melihat nomor di masing-masing pintu

097… 098… 099… 100… 101… 102… 103… 104!

Angel membuka pintu tersebut dengan kunci yang dipegagnya, setelah ia masuk ia duduk di atas kasur empuk berselimut putih. Seprai-nya putih bersih dengan dua bantal empuk.

“… Biaya laundrynya nambah…”

Angel berdiri, meninggalkan bercak darah di atas selimut putih, menanggalkan seragam High Priestess-nya. Memperlihatkan banyak luka -yang tidak bisa hilang bekasnya- di lengan serta punggungnya, bukti bahwa pertarungan adalah makanannya sehari-hari.

“Permisi- WHUAAAA!!!”

Seorang bellboy yang malang terkaget melihat Angel. Sosok yang mirip Elf hanya dengan pakaian dalam, sepertinya cukup untuk membuatnya mengeluarkan darah dari hidungnya dengan jumlah tidak sedikit. Pingsan.

“… Kenapa orang ini…?” Angel memperhatikan bellboy berambut hijau pendek itu yang tengah pingsan, lalu memperhatikan dirinya, “Pantas saja.”

Angel menendang tubuh tak berdosa itu keluar bersama dengan baju High Priestessnya yang penuh darah.

BRUK!

Angel merebahkan diri di atas kasur yang ada bercak darahnya. Ia memikirkan banyak hal. Terlebih lagi, masa lalunya.

Tanpa disadari, ia terbawa ke alam mimpi.

“Aku berbeda dengan Angel! Tidak ada yang mau memperhatikanku!”
“Sifatku ini JELEK! Aku tidak punya hal yang LEBIH!!”

“He-hei, sifatku juga jelek kok kata orang-orang.”

“Tapi Angel punya kelebihan! Angel bisa melindungi orang! Sedangkan aku?! Aku hanya bisa dilindungi!”
“Maka dari itu… Aku… Tidak…”
“Aku tidak bisa marah…”
“Aku… Tidak mau dibenci.”

“Aku tidak mengerti.”

“Angel sadar? Kalau aku marah, mereka tidak peduli.”
“Mereka menganggap aku tidak ada, mereka tidak peduli.”
“Yang ada, aku hanya dijauhi mereka.”
“Aku sadar… Tidak ada orang yang mau menyadari keberadaanku.”
“APA AKU SALAH!? SALAH MENJADI ORANG TAK BERKEMAMPUAN?!”

PLAK!

“Kau harusnya sadar! Percuma saja kalau kau marah-marah! Kalau kau menganggap dirimu tidak berkemampuan…”
“SELAMANYA KAU TIDAK ADA PUNYA KEMAMPUAN!!”

———-

“Angel…”

“Aku tidak bisa percaya, kalau dia akan jadi seperti ini… Kalau aku tahu bakalan begini, lebih baik kemarin aku tidak berkata seperti itu.”

“Sudahlah… Tapi dia bilang, dia senang mempunyai teman sepertimu, Angel…”

Angel tiba-tiba terbangun. Mengingat masa lalunya, dimana ia mengeluarkan air matanya untuk pertama kali.

Dimana ia ‘membunuh’ seseorang.

Terdengar ketukan dari luar, Angel berjalan menuju arah pintu, hendak membukanya.

“Permisi… No-nona Angel, bajunya sudah selesai dicuci -dan dikeringkan, tentunya-.” Rupanya bellboy yang malang itu datang lagi, untuk mengantarkan baju seragam High Priestess Angel yang tadinya penuh darah.

Angel langsung membuka pintu sedikit, memberikan celah untuk tangannya mengambil baju tersebut, lalu mengambil baju seragam High Priestessnya.

Angel mengenakan seragamnya yang ribet itu sambil kembali memikirkan soal ‘pembunuhan’ itu.

Angel berusaha tidak peduli, ia membuka pintu itu, membuat sang bellboy berambut hijau itu terkejut, lalu memberikan uang 1.500 zenny.

“Aku mengotori sprei-nya, ini uangnya,” ujar Angel ke sang bellboy, yang hanya menerima uang itu lalu mengangguk, lalu kabur ke lantai bawah.

“Tsk… Hidupku ini penuh dengan darah, bukankah begitu?” Angel bergumam, namun cukup keras untuk bisa didengar oleh orang yang berada di kamar yang sama dengannya.

“Apa kau sendiri baru menyadarinya, wahai sang pembunuh?”

Sepertinya Angel tidak terkejut mendapatkan jawaban itu, Angel hanya menghela nafasnya.

“Tidak ada waktu untuk curhat, aku harus segera pergi,” jawab Angel sambil menengok ke arah tempat kosong.

“Hehehe, kuharap kita bisa bertemu lagi di lain waktu, untuk mendengarkan ceritamu.”

Angel langsung keluar dari kamar itu, berjalan menuju lantai satu, dan keluar dari penginapan itu.

“Pembunuh… Benar-benar panggilan yang cocok untukku, eh?”

Angel membatin sambil melihat-lihat kota Prontera yang ramai, tapi ada yang ganjil.

Di tengah kota Prontera, ada sesuatu yang menarik perhatian para penduduk, mereka berkumpul di sana. Angel yang penasaran berusaha melihat apa yang dilihat penduduk, yang membuat mata Angel terbelalak ketika melihatnya.

“… A-… Apa…?”

2 Tanggapan ke “A Life that Full of Blood”

  1. Master Courius Berkata:

    heh heh heh…. akhirnya lanjut juga…. tuh Card “angel” akhirnya d pake juga heh heh heh….

    hueheheh bell boynya pingsan liad si angel “polos” …. asli itu tampang 180 derajat ama sifat heh heh heh….. klo engga yakin dah ngatri orang orang mau ngelamar dia heh heh heh…..

    hmm…. luka luka? bukankah heal bisa menghilangkan luka sama sekali? (mungkin ini sebabnya para priest kulitnya mulus semoa walopun kerjaannya jadi TEmbok tiap hari)

    eng…. tapi si angel emank ga bisa heal dgn baik yah heh heh heh… pertanyaan bodoh….

  2. DS Berkata:

    +_+….

    siapa itu yg ngomong ama dia didalem mimpi…

    … hmm, Angel jg banyak luka kah? +____+ dasar, harusnya jangan jadi priestess sekalian…. ~__~ ini… pertanyaan kontrobersial, bukan typo /gg

    kapal lanjutnya….

Tinggalkan Balasan