Arsip untuk Februari, 2008

The Satan

Februari 9, 2008

Chapter 3

The Satan.

Kami berdua keluar dari daerah Geffen.

Bosan… Angel hanya diam saja, yang menimbulkan suara berisik palingan hanya Poporing yang melompat-lompat. Coco yang menggigiti biji kenari yang didapatnya. Dan suara kepakan sayap Stainer. Selain itu, hanya ada suara langkah kami berdua.

Bosan…

Kalau begini, tidak ada bedanya dengan berjalan sendirian.

“Angel, bagiamana kau dapat palu itu?” Tanyaku, memecah keheningan.

Aku bisa gila lama-lama kalu berada di situasi hening seperti ini!!

“Palu ini sudah ada pas aku lahir, aku juga tidak tahu bagaimana dapatnya.”

Angel memutar-mutar gagang palu itu dengan kelima jarinya. Apa tidak berat ya?

“Angel, jangan diputar-putar dong, aku takut palunya kena aku,” ujarmu. Memang agak menyeramkan sih kalau andaikan palu itu tiba-tiba salah mendarat.

Angel langsung memegang gagang Mjollnirnya lalu membawanya seperti biasa.

Ughh… Lama-lama aku gila…

Seseorang… Bicaralah… Ay–

“Tung-tunggu, a-aku masih ada urusan.”

Aah!! Akhirnya aku mendengar ada suara seseorang!! Aku langsung menoleh.

Seorang acolyte manis. Dikelilingi oleh para lelaki yang sepertinya sedang menggodanya.

Seorang Swordman berambut merah pendek. Thief berambut coklat acak-acakan yang memakai google. Merchant dengan rambut pirangnya, wajahnya menyebalkan, sepertinya mereka semua dari guild yang sama.

Aku menoleh ke arah Angel, dia memang berhenti berjalan, tapi sepertinya tidak ada niat untuk menolong.

“Ahahaha, apa tidak apa-apa berjalan di sekitar sini? Apalagi daratan di dekat sini kan banyak monster agresifnya.”

Sang Merchant menakut-nakuti acolyte itu, memang di daerah sini tidak berbahaya sih… Tapi di dekat sini monsternya harus diwaspadai.

“Mau kami temani saja?”

Ugh… Thief itu malah tebar pesona. Padahal acolyte itu sudah menolaknya, kenapa sih?

“Ti-tidak perlu…” Ujar Acolyte berambut pirang itu, berusaha lepas dari ketiga orang tersebut.

“Tidak usah sungkan-“ Swordman itu langsung menarik tangan sang acolyte.

Aku tidak tahan melihatnya!!

“Hei kali-“

“Bisakah kalian hentikan?” Tanya Angel.

Entah karena sifatku yang suka mendramatisir atau apa, tapi aku merasa ada angin sepoi-sepoi yang bertiup.

Semuanya terdiam lagi.

Tiba-tiba Swordman itu membuka mulutnya.

“Hei, siapa kau? Beraninya memerintah kami?” Tanyanya dengan nada ‘nyolot’.

Coba di sini sepi… Aku ingin cepat-cepat membuatnya bermimpi di sini. Tapi tidak mungkin, ada acolyte itu, Angel, dan juga teman-temannya.

“Ah, kakak manis juga, mau bermain bersama kami?” Tanya sang Merchant sambil mengeluarkan senyum tebar pesona. “Setidaknya lebih baik daripada dengan Swordsman lusuh seperti itu.”

Ku-kurang ajar!! Siapa yang kau bilang ‘lusuh’?! Aku sudah tidak tahan, aku akan mengaktifkan ‘Halt’, setidaknya aku intin menumbangkan Merchant sial itu!

“He-hei… Kalau ti-tidak salah… Kakak itu…”

Thief itu berbisik sedikit ke arah si Merchant. Wajahnya agak pucat, aku hanya bias mendengar sedikit pembicaraannya.

“Aku pernah dengar tentang swordsman ini, dan aku tahu dia lebih baik dari kalian.”

Angel mengangkat Mjollnirnya.

Seekor[?] Poporing lewat.

Pemandangan yang menakjubkan.

Mjollnir itu menghancurkan Poporing malang yang tidak sengaja lewat di depan Angel, bahkan cipratan jelinya tidak terlihat. Bisa dilihat ada bunga api dan sedikit petir yang berkelibat di sekitar Mjollnir.

Tertanam di tanah.

“Apa kalian mau berakhir seperti poporing itu?” Tanya Angel. Mata merahnya menatap ketiga lelaki itu dengan tajam. Taringnya pun menambah nuansa menyeramkan di wajahnya.

Aku merinding. Tubuhku gemetar.

Itu…

Setan.

“Ba-baiklah!! Kami pergi!!”

Ketiga orang itu langsung saja lari terbirit-birit, wajarlah kalau mereka kabur. Kakiku saja sudah lemas melihatnya.

Eh?! Bagaimana dengan acolyte itu?!

Aku melihat Acolyte itu shock, tidak bisa berkata apa-apa.

“Aaah… An-angel…?”

Angel menoleh ke arah Acolyte itu. Wajah Acolyte itu ketakutan.

“Darimana kau tahu namaku?” Tanya Angel.

Sepertinya dia sudah biasa ditakuti… Aku bingung, jadi selama ini aku berjalan dengan setan!?!

Untung aku tidak macam-macam dengannya tadi… Kalau tidak, aku sudah berakhir menjadi Poporing… Eh, maksudnya, seperti Poporing tadi.

“Ah… Tidak, a-aku hanya pernah melihat wajahmu dulu… Di-di Gereja…” Ujar sang Acolyte ketakutan, tubuhnya sudah gemetar.

Bersiap-siap pergi.

“Tung-tunggu, kau mau kemana??” Tanyaku memberanikan diri. Acolyte itu kaget. Well… Orang yang berjalan bersama setan biasanya setan juga.

“Ehmm… Tenang saja, aku ini orang baik kok, aku juga tidak bawa senjata.” Ujarku sambil memperlihatkan tanganku. Untung ‘dia’ masih tertidur, kalau tidak, bisa teriak dia.

“Aah… Aku hendak ke Al De Baran… Aku harus mengantarkan sesuatu ke ketua akademi Alchemist di sana, lalu… Aku harus ke Lighthalzen…” Jelasnya, sudah agak tenang, setidaknya.

“Lighthalzen? Kalau begitu kau harus ke Juno untuk menaiki airshipnya, bagaimana kalau kau ikut kami? Kami mau ke Juno juga,” ujarku sambil tersenyum lebar.

“Ung… Ba-baiklah…” Ujarnya.

“Seperti yang kau ketahui, namanya Angel.” Aku menunjuk Angel dengan ibu jariku.

“Aku Gyakko.”

“Ehm… Aku… Hideco…” Jawabnya.

Nama yang unik…

“Kalau begitu… Kita lanjut saja, lagipula sudah ada Angel, masalah monster agresif bukan lagi sebuah mas- Eh!! Angel!! Jangan tinggalkan kami!!”

Padahal aku belum menyelesaikan kalimatku, Angel malah meninggalkan kami begitu saja. Terpaksa aku harus berlari mengikutinya.

Yah… Semakin banyak semakin baik, bukan?

The First Real Journey

Februari 3, 2008

[Chapter 2]

The First Real Journey

Tombak api itu sudah siap membakar tubuhku, aku hanya bisa terdiam.

Tidak!! Aku harus bertemu dengan Reynol.

“FROST DIVER!!”

Aku menengadahkan tangan kananku, memperlihatkan tangan kananku yang tidak terlindungi.

… Tidak terlindungi? Kurasa… Tangan kananku ini terlindungi dengan sesuatu yang sangat hebat.

Tak terkalahkan.

Mata yang semula tertutup terbuka. Menunjukkan iris mata berwarna merah darah, yang menginginkan darah sebagai makanannya.

Dari sana, muncul tombak es yang anehnya tidak berbenturan dengan tombak api tersebut.

Tombak es tersebut menyelimuti semua tombak api, langsung saja aku mengarahkan telapak tangan kananku ke arah Quin.

Mata Quin terbelalak melihat apa yang muncul di tanganku. Sesuatu yang kusembunyikan.

Mata dengan iris berwarna merah darah terlihat di tangan kananku, bukan sesuatu yang normal.

Kuharap dia akan membantuku bertarung dengan sihir.

Bukan, aku tahu benar mata ini.

Dialah yang akan bertarung!

Tombak api yang membeku tersebut mengubah arahnya ke arah Quin, dengan panik dia merapal mantra baru.

“Fire Wall!!”

Tembok api menghalangi tombak es tersebut, dan mau apalagi, sepertinya api terlalu panas untuk es.

Tombak e situ langsung meleleh, Quin langsung terduduk, tidak percaya apa yang barusan terjadi.

“A… Apa itu… Mata itu… Apa… Itu…”

Quin kelelahan, shock karena ia harus merapal mantra lebih cepat dari biasanya, serta melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat.

“Dream Making… Tidurlah, Quin…”

Aku memperlihatkan mata itu sekali lagi, mata yang setengah tertutup.

Lalu Quin ambruk, dan mata itu tertutup seluruhnya.

“Aaah… A-aku… Tidak percaya… Aku dikalahkan… Umur lima belas…”

Akhirnya dia tidak sadar sepenuhnya, sepertinya pertahanan magisnya cukup tinggi untuk dapat sadar beberapa detik.

Aku… Menang?

“Quin, aku pergi dulu… Aku sepertinya harus cepat-cepat bertemu Reynol…” Gumamku, lalu meninggalkan Quin yang tidak berdaya di daratan Geffen.

Aku melihat lagi telapak tangan kananku, matanya tertutup.

“Terima kasih…” Ujarku, lalu berjalan menuju kota Geffen.

Aku melihat ke menara Geffen, padahal aku berencana untuk memasukinya untuk ujian sebagai Wizard.

Tapi seperti yang dijanjikan Quin, kalau aku mengalahkannya, aku bisa selangkah lebih dekat dengan Professor misterius itu.

“Tuan, apa anda mau menggunakan jasa warp?”

Kafra cantik berambut coklat itu bertanya padaku, oh iya, aku baru ingat aku hendak pergi ke Juno.

“Ke…”

Begitu aku merogoh kantongku, aku baru sadar.

Uangku habis.

“Eh, maaf, tidak jadi!” Ujarku, aku langsung berjalan dengan lesu.

Uangku habis, mana mungkin aku harus mengumpulkan Jellopy dan menjualnya, itupun kalau ada yang mau membelinya.

Aku bersiul, depresi, menghadapi kenyataan yang pahit. Uangku habis, bagaimana caraku pergi ke Juno? Aku tidak mungkin berjalan ke Al De Baran, lalu ke Juno, sebelum tiba di Al De Baran bisa-bisa aku masuk Koran Prontera.

“Apa yang harus kulakukan…” Ujarku, bertanya pada diriku sendiri.

Aku melihat ke langit. Langit yang luas…

Eh, awannya lucu, ada yang bentuknya mirip Poring… Ah, yang itu mirip Lunatic…

Lho? Yang besar mirip Alarm…

Yang di…

BRUK!

“Owh, sial… Ma-maaf.” Ujarku, yang langsung berdiri.

Sial, aku menubruk seseorang… Tapi dia tidak bergeming.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya.

High Priestess dengan rambut kuning pucat panjang… Kulitnya putih dan halus.

Aku mencoba melihat wajahnya, aku mendongak karena dia lebih tinggi dariku.

Glek…

Mata merah… Dengan taring yang tajam…

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk dengan cepat, aura wanita ini menyeramkan… Aku… Aku mau pergi sekarang.

“Oh, kalau begitu, yasudah.”

High Priestess itu langsung pergi begitu saja, aura kegelapan seperti mengikutinya… Dan senjatanya…

Ukh… Aku merasa familiar… Itu…

Mjollnir…

Eh? Dia kan High Priestess, kenapa aku tidak minta tolong? Siapa tahu dia ada warp ke Al De Baran.

“Aah!! Tung-tunggu nona!!”

High Priestess itu berhenti, menoleh ke arahku.

Wah, dilihat-lihat wajahnya cantik, sepertinya dia umur duapuluhan. Wajahku sepertinya memerah sedikit.

“Enng… Bisakah kau membuka Warp Portal menuju Al De Baran?” Tanyaku, agak gugup.

Dia berpikir.

Semoga iya… Semoga iya…

“Maaf, tidak.”

AAAARGH!!!

“Ooh… Maaf, aku mengganggu…” Ujarku, walaupun wajahnya cantik, tapi seram juga melihatnya, firasatku agak tajam, wanita ini bukan sembarang orang.

“Aku mau ke Al De Baran, kau mau ikut?” Tanyanya.

“Eh, ikut?” Balasku, kebingungan.

“Yah jalan, mau apalagi, aku tidak punya uang untuk sementara ini, biayanya habis kupakai untuk memperbaiki senjataku, aku juga tidak bisa warp portal.”

Aah… Sepertinya tidak begitu melelahkan kalau ada teman, lagipula aku bisa selamat kalau ada orang yang sepertinya kuat ini bersamaku.

“Bo-boleh, kalau kau tidak keberatan!” Seruku antusias, wanita itu hanya melihatku sebentar.

“Ada baiknya kita berkenalan dulu, namamu siapa?” Tanyanya.

“G-Gyakko… Aku tidak punya marga… Memang aneh,” jawabku. Memang aneh sekarang orang yang tidak punya marga, padahal itu salah satu ketentuan untuk belajar di tempat manapun.

“Oh, tidak aneh. Aku juga tidak punya marga.”

“Eh?”

Ternyata ada juga orang yang sama denganku~~

“Aku Angel, sebaiknya kita berjalan sekarang, biar kalau sudah malam kita sudah sampai di suatu kota. Monster di malam hari jauh lebih berbahaya.”

Angel langsung berjalan menuju pintu keluar Geffen, menenteng gada raksasanya dengan ringan, bersiul pelan.

“Ah!! Tung-tunggu!!”

Aku langsung berlari mengikutinya.

Dengan begini… Aku lebih dekat selangkah lagi dengan Reynol, aku pasti akan menemukan jawaban atas pertanyaanku ini…

Pasti.

“Hei, apa tujuanmu ke Al De Baran, Angel?”

Aku bertanya saat sampai di gerbang Geffen. Kedua penjaga yang tidak terlihat lelah menjaga gerbang membuka gerbang tersebut, mempersilahkan kami berdua keluar.

“Aku mau ke Juno… Aku HARUS bertemu dengan seseorang.”

Tiba-tiba aura menyeramkan yang tadi kurasakan keluar lagi. Sebenarnya rasanya tidak asing lagi bagiku… Aura ini…

Aura seorang dewa, aku semakin penasaran dengan dirinya yang sebenarnya.

“Ahahaha, aku juga… Kalau begitu, semoga perjalanan ini cukup menyenangkan,” aku menutup pembicaraan, sepertinya akan semakin berbahaya kalau Angel terlalu bersemangat.

“Oh iya, kau tidak apa? Kau seorang Mage Knight, bukan? Kenapa tidak membawa pedang?” Tanyanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa… Apa aku harus jujur?

“Aku… Pedangku pecah saat hendak kutempa, Aragham memang mempunyai kemampuan menempa yang hebat, sayangnya dia lebih sering memecahkan barang yang ditempanya.”

Ah… Aku berbohong… Semoga ia tidak tahu…

“Benarkah?” Tanyanya, mata merahnya menusuk mata hijauku.

Jangan bilang dia tahu aku berbohong.

“Kalau begitu, semoga diperjalanan kau menemukan yang baru.” Lanjutnya.

“Ah… Semoga…”

Kenapa… Aku berbohong?

The True Strength

Februari 1, 2008

[Chapter 1]

The True Strength

Aku terduduk di bangku panjang yang terkenal di daratan Prontera, semua orang tahu tempat ini.

Dan tempat ini merupakan favoritku, karena aku bisa melihat Lunatic dan Poring yang bergembira, sedang melompat-lompat mencari makanan. Kurasa mereka lucu.

Aku menyadari seragam Swordsmanku sudah kumasukkan ke dalam lemari, bersama pakaian Novice yang kupakai beberapa tahun yang lalu.

Harusnya aku senang aku telah menjadi Knight, tapi… Perasaan ini…

Bodoh, harusnya aku tahu kalau menang dengan cara curang seperti itu tidak akan membuat senang, kalau aku sih begitu.

Aku menghela nafas sekali lagi dan tidak menyadari kalau Zero duduk di sebelahku.

“Gyakko, selamat ya.”

Aku menoleh. Seijiro Zero.

Wajah yang tidak ingin kulihat, aku malu menjadi seorang Knight dengan cara curang, padahal dimana-mana Knight adalah orang yang menegakkan keadilan.

Tapi aku? Seorang Knight yang menyedihkan.

“Kok diberi selamat malah murung? Ujian Knight itu tidak mudah loh, mendapatkan jalan pintas itu sangat membantu! Aku harap aku menang darimu saat itu, tapi sepertinya paduan kecepatan, kekuatan, dan akurasi memang tidak bisa dikalahkan.”

Zero tersenyum paksa, berusaha menahan kecewa.

Zero, jangan pasang wajah seperti itu… Aku…

“Zero, aku minta maaf.”

Suaraku bergetar, aku bukan sedang menahan tangis, aku hanya…

“Aku tidak pantas menjadi seorang Knight…”

Tsk. Memang perasaan malu ini tidak bisa kubendung lagi, mana ada Knight yang menangis di hadapan seorang Swordsman?

“Aku…”

“Hentikan, Gyakko.”

Zero memotong ucapanku, matanya yang tajam… Mata yang kuinginkan, bukan mata hijau yang lemah ini.

“Zero… Ajarkan aku berpedang…” Ujarku lirih.

Zero menatapku kaget, dia kebinguanan. Dikepalanya berputar pertanyaan bagaimana seseorang yang dengan lihai mengalahkannya dengan teknik pedang yang tidak bisa dibilang mudah meminta ajaran berpedang.

“Hoi, mana mungkin aku bisa mengajarimu berpedang, kau saja sudah hebat, lebih baik kau minta Tuan Seyren Windsor sana.”

Zero sepertinya merasa diremehkan, dia tidak memberikanku kesempatan berbicara.

“Zero!! Tunggu!!”

Aku bangkit, berusaha menyusul Zero.

Tidak bisa, kakiku berat, seperti ada sesuatu yang menahannya.

”Zero…”

Dia menghilang dari pandanganku, aku kembali terduduk lagi.

Kepada siapa aku bisa belajar berpedang? Zero tidak mau mengajarkanku… Tuan Seyren… Bisa-bisa aku tidak selamat sebelum menemuinya.

“Tuan Seyren… Kapan aku bisa belajar berpedang langsung kepadanya…” Aku menunduk, memainkan jari-jariku.

Aku berdiri dari bangku taman tersebut, meninggalkan Bastard Sword milikku.

Aku tidak pantas memakai pedang tersebut, terlalu berat.

Mungkin aku akan mengganti senjataku dengan tongkat sihir. Lebih menyenangkan.

Kata temanku, kalau kau tidak bisa berpedang, pasti kau mempunyai bakat di sihir, mungkin aku punya bakat itu.

Aku tersenyum, berjalan menuju kota Geffen yang jauh sambil tersenyum.

… Satu tahun kemudian …

Haah… Haah…

“Gyakko?? Ini baru latihan awal, dan kau masih belum bisa menciptakan lima bola api sekaligus?”

Aku melihat ke suara wanita tersebut. Seorang Magician dengan rambut merah muda pendek. Dia adalah pelatih para Magician yang baru lulus.

Dengan seragam Magiciannya yang terbuka, ia bahkan tidak berusaha menutupinya seperti wanita pada umumnya, terkadang mereka memakai aksesoris tambahan, tapi tidak dengan wanita satu ini.

Mata coklatnya memantulkan cahaya api yang baru saja dibuatnya. Karena rekomendasi dari Kavaleri Prontera, dia timina untuk mengajar privat untukku.

“Gyakko, kau mau jadi Mage Knight?” Tanyanya.

“Begitulah… Nona Elementum…”

“Gyakko, panggil aku ‘Quin’, cukup dengan itu,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Quinque Elementum… Quin… Queen… Ratu.

“Hana, kenapa kau bisa mengira seperti itu? Aku kan…-“

Aku terdiam, tiba-tiba teringat sesuatu.

“Bagaimana tidak? Seorang Knight dengan teknik berpedang yang indah, mengalahkan musuh dalam sekejap! Kalau dia menguasai sihir juga, dia akan jadi orang terkuat!” Serunya.

Dasat tidak sadar umur, walaupun wajahnya masih berkisar seperti duapuluhan, aku berani bertaruh umurnya nyaris tiga puluh lima.

Kami berlatih di daratan Geffen, dikelilingi dengan Fabre, Pupa, Poring, serta Chon Chon yang menimbulkan suara berisik. Agak kasihan juga melihat mereka terpanggang dengan api buatan Quin.

“Quin, ngomong-ngomong…”

“Gyakko, kau masih belum bisa mengeluarkan bola api juga?? Itu hal yang sangat mudah kalau kau berkonsentrasi!” Serunya.

Aku terdiam. Masih melihat ke tanganku. Tangan kananku yang sangat berharga.

“Kau lihat apa sih?” Tanya Quin, sambil melihat ke arah telapak tangan kananku. Secara reflek aku langsung menyembunyikannya.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Aku menyembunyikannya.

“Ehehehe… Jangan menyembunyikan sesuatu dari gurumu ini… Apa yang kau lihat tadi? Pemberian pacarmu ya??”

… Enak saja…

Yang aku sembunyikan itu…

Di telapak tanganku, akan ada terdapat suatu garis samar-samar… Seperti sebuah mata yang tertutup, dan bila aku mengaktifkan sihirku…

Dia akan terbuka, dan membuatku bisa mengeluarkan sihir.

“Oh iya, Quin, kau tahu seorang professor yang namanya…”

“Reynol Veneficus?” Tanyanya.

Seorang Magic Master bisa membaca pikiran rupanya…

“Semua orang pasti akan mencarinya, dia adalah seorang yang mempunyai kemampuan otak di atas rata-rata. Walaupun daya sihirnya lebih lemah dariku, masalah strategi sihir, dialah yang paling hebat.” Jelas Quin.

Pantas semua orang mencarinya.

“Begini Quin, aku berharap bisa bertemu dengannya, ada yang mau kutanyakan kepadanya.” Jelasku.

“Percuma. Kau tidak akan bisa mencapainya, aku saja… Tidak pernah bertemu dengannya lagi.”

Pandangan Quin menjadi muram, bola api yang tadiya terang meredup. Hilang.

“Quin… Memangnya kenapa?”

“Cara untuk menemuinya sangat sulit, dia tidak pernah berada di lokasi yang sama, dia pasti berpindah-pindah. Kabarnya kemarin baru saja dia berangkat ke kotanya, Juno. Hari ini kudengar dia sedang piknik di Amatsu,” jelasnya.

Pantas saja… Seorang Professor ahli strategi sihir, bila dirinya ditangkap oleh organisasi hitam, pastilah Rune-Midgard akan berada di bawah baying-bayang kegelapan.

Tsk.

“Tapi aku tahu satu cara untuk lebih dekat satu langkah dengan Reynol.”

Quin tersenyum.

“Kalahkan aku dalam sihir, aku yakin, mempunyai potensi untuk menemuinya.”

Quin menciptakan bola api, lebih terang dan lebih panas dari biasanya.

Aku meneguk ludah.

Semenjak aku meninggalkan kavaleri Prontera, aku ke Geffen, dan mengira aku mempunyai sedikit bakat dalam sihir karena aku berhasil lulus dalam ujiannya tanpa menggunakan sihir pembuat mimpi tersebut.

Tapi… Untuk melawan seorang Magic Master… Aku tidak mungkin sanggup!!

Bagaimana ini… Apa yang harus kulakukan…?

Aku… Aku tidak mau menggunakan sihir pembuat mimpi ini… Karena sama saja aku tidak akan maju selangkah menuju Reynol.

“Hwaaa!!!”

Aku menghindar rentetan bola api yang dilemparkan kepadaku. Kakiku gemetar.

“Hei, Quin… Sepertinya tidak bisa secepat ini… Aku butuh latihan… Aku saja masih belum bisa membuat bola api.” Ujarku, aku tidak mungkin bisa menang dalam keadaan seperti ini!!

“Ini kesempatanmu, kalau kau tidak mengalahkanku sekarang… Kau tidak akan maju selangkahpun.” Jelasnya, tangannya membuat lingkaran sihir di udara.

“Fire bolt.”

Aku mendongak begitu mendengar ucapannya. Sepuluh tombak api sedang mengarah tepat ke arahku.

Apa aku harus terbakar di tempat ini?

Aku…