[Chapter 1]
The True Strength
Aku terduduk di bangku panjang yang terkenal di daratan Prontera, semua orang tahu tempat ini.
Dan tempat ini merupakan favoritku, karena aku bisa melihat Lunatic dan Poring yang bergembira, sedang melompat-lompat mencari makanan. Kurasa mereka lucu.
Aku menyadari seragam Swordsmanku sudah kumasukkan ke dalam lemari, bersama pakaian Novice yang kupakai beberapa tahun yang lalu.
Harusnya aku senang aku telah menjadi Knight, tapi… Perasaan ini…
Bodoh, harusnya aku tahu kalau menang dengan cara curang seperti itu tidak akan membuat senang, kalau aku sih begitu.
Aku menghela nafas sekali lagi dan tidak menyadari kalau Zero duduk di sebelahku.
“Gyakko, selamat ya.”
Aku menoleh. Seijiro Zero.
Wajah yang tidak ingin kulihat, aku malu menjadi seorang Knight dengan cara curang, padahal dimana-mana Knight adalah orang yang menegakkan keadilan.
Tapi aku? Seorang Knight yang menyedihkan.
“Kok diberi selamat malah murung? Ujian Knight itu tidak mudah loh, mendapatkan jalan pintas itu sangat membantu! Aku harap aku menang darimu saat itu, tapi sepertinya paduan kecepatan, kekuatan, dan akurasi memang tidak bisa dikalahkan.”
Zero tersenyum paksa, berusaha menahan kecewa.
Zero, jangan pasang wajah seperti itu… Aku…
“Zero, aku minta maaf.”
Suaraku bergetar, aku bukan sedang menahan tangis, aku hanya…
“Aku tidak pantas menjadi seorang Knight…”
Tsk. Memang perasaan malu ini tidak bisa kubendung lagi, mana ada Knight yang menangis di hadapan seorang Swordsman?
“Aku…”
“Hentikan, Gyakko.”
Zero memotong ucapanku, matanya yang tajam… Mata yang kuinginkan, bukan mata hijau yang lemah ini.
“Zero… Ajarkan aku berpedang…” Ujarku lirih.
Zero menatapku kaget, dia kebinguanan. Dikepalanya berputar pertanyaan bagaimana seseorang yang dengan lihai mengalahkannya dengan teknik pedang yang tidak bisa dibilang mudah meminta ajaran berpedang.
“Hoi, mana mungkin aku bisa mengajarimu berpedang, kau saja sudah hebat, lebih baik kau minta Tuan Seyren Windsor sana.”
Zero sepertinya merasa diremehkan, dia tidak memberikanku kesempatan berbicara.
“Zero!! Tunggu!!”
Aku bangkit, berusaha menyusul Zero.
Tidak bisa, kakiku berat, seperti ada sesuatu yang menahannya.
”Zero…”
Dia menghilang dari pandanganku, aku kembali terduduk lagi.
Kepada siapa aku bisa belajar berpedang? Zero tidak mau mengajarkanku… Tuan Seyren… Bisa-bisa aku tidak selamat sebelum menemuinya.
“Tuan Seyren… Kapan aku bisa belajar berpedang langsung kepadanya…” Aku menunduk, memainkan jari-jariku.
Aku berdiri dari bangku taman tersebut, meninggalkan Bastard Sword milikku.
Aku tidak pantas memakai pedang tersebut, terlalu berat.
Mungkin aku akan mengganti senjataku dengan tongkat sihir. Lebih menyenangkan.
Kata temanku, kalau kau tidak bisa berpedang, pasti kau mempunyai bakat di sihir, mungkin aku punya bakat itu.
Aku tersenyum, berjalan menuju kota Geffen yang jauh sambil tersenyum.
… Satu tahun kemudian …
“Haah… Haah…”
“Gyakko?? Ini baru latihan awal, dan kau masih belum bisa menciptakan lima bola api sekaligus?”
Aku melihat ke suara wanita tersebut. Seorang Magician dengan rambut merah muda pendek. Dia adalah pelatih para Magician yang baru lulus.
Dengan seragam Magiciannya yang terbuka, ia bahkan tidak berusaha menutupinya seperti wanita pada umumnya, terkadang mereka memakai aksesoris tambahan, tapi tidak dengan wanita satu ini.
Mata coklatnya memantulkan cahaya api yang baru saja dibuatnya. Karena rekomendasi dari Kavaleri Prontera, dia timina untuk mengajar privat untukku.
“Gyakko, kau mau jadi Mage Knight?” Tanyanya.
“Begitulah… Nona Elementum…”
“Gyakko, panggil aku ‘Quin’, cukup dengan itu,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Quinque Elementum… Quin… Queen… Ratu.
“Hana, kenapa kau bisa mengira seperti itu? Aku kan…-“
Aku terdiam, tiba-tiba teringat sesuatu.
“Bagaimana tidak? Seorang Knight dengan teknik berpedang yang indah, mengalahkan musuh dalam sekejap! Kalau dia menguasai sihir juga, dia akan jadi orang terkuat!” Serunya.
Dasat tidak sadar umur, walaupun wajahnya masih berkisar seperti duapuluhan, aku berani bertaruh umurnya nyaris tiga puluh lima.
Kami berlatih di daratan Geffen, dikelilingi dengan Fabre, Pupa, Poring, serta Chon Chon yang menimbulkan suara berisik. Agak kasihan juga melihat mereka terpanggang dengan api buatan Quin.
“Quin, ngomong-ngomong…”
“Gyakko, kau masih belum bisa mengeluarkan bola api juga?? Itu hal yang sangat mudah kalau kau berkonsentrasi!” Serunya.
Aku terdiam. Masih melihat ke tanganku. Tangan kananku yang sangat berharga.
“Kau lihat apa sih?” Tanya Quin, sambil melihat ke arah telapak tangan kananku. Secara reflek aku langsung menyembunyikannya.
“Tidak, tidak ada apa-apa.” Aku menyembunyikannya.
“Ehehehe… Jangan menyembunyikan sesuatu dari gurumu ini… Apa yang kau lihat tadi? Pemberian pacarmu ya??”
… Enak saja…
Yang aku sembunyikan itu…
Di telapak tanganku, akan ada terdapat suatu garis samar-samar… Seperti sebuah mata yang tertutup, dan bila aku mengaktifkan sihirku…
Dia akan terbuka, dan membuatku bisa mengeluarkan sihir.
“Oh iya, Quin, kau tahu seorang professor yang namanya…”
“Reynol Veneficus?” Tanyanya.
Seorang Magic Master bisa membaca pikiran rupanya…
“Semua orang pasti akan mencarinya, dia adalah seorang yang mempunyai kemampuan otak di atas rata-rata. Walaupun daya sihirnya lebih lemah dariku, masalah strategi sihir, dialah yang paling hebat.” Jelas Quin.
Pantas semua orang mencarinya.
“Begini Quin, aku berharap bisa bertemu dengannya, ada yang mau kutanyakan kepadanya.” Jelasku.
“Percuma. Kau tidak akan bisa mencapainya, aku saja… Tidak pernah bertemu dengannya lagi.”
Pandangan Quin menjadi muram, bola api yang tadiya terang meredup. Hilang.
“Quin… Memangnya kenapa?”
“Cara untuk menemuinya sangat sulit, dia tidak pernah berada di lokasi yang sama, dia pasti berpindah-pindah. Kabarnya kemarin baru saja dia berangkat ke kotanya, Juno. Hari ini kudengar dia sedang piknik di Amatsu,” jelasnya.
Pantas saja… Seorang Professor ahli strategi sihir, bila dirinya ditangkap oleh organisasi hitam, pastilah Rune-Midgard akan berada di bawah baying-bayang kegelapan.
Tsk.
“Tapi aku tahu satu cara untuk lebih dekat satu langkah dengan Reynol.”
Quin tersenyum.
“Kalahkan aku dalam sihir, aku yakin, mempunyai potensi untuk menemuinya.”
Quin menciptakan bola api, lebih terang dan lebih panas dari biasanya.
Aku meneguk ludah.
Semenjak aku meninggalkan kavaleri Prontera, aku ke Geffen, dan mengira aku mempunyai sedikit bakat dalam sihir karena aku berhasil lulus dalam ujiannya tanpa menggunakan sihir pembuat mimpi tersebut.
Tapi… Untuk melawan seorang Magic Master… Aku tidak mungkin sanggup!!
Bagaimana ini… Apa yang harus kulakukan…?
Aku… Aku tidak mau menggunakan sihir pembuat mimpi ini… Karena sama saja aku tidak akan maju selangkah menuju Reynol.
“Hwaaa!!!”
Aku menghindar rentetan bola api yang dilemparkan kepadaku. Kakiku gemetar.
“Hei, Quin… Sepertinya tidak bisa secepat ini… Aku butuh latihan… Aku saja masih belum bisa membuat bola api.” Ujarku, aku tidak mungkin bisa menang dalam keadaan seperti ini!!
“Ini kesempatanmu, kalau kau tidak mengalahkanku sekarang… Kau tidak akan maju selangkahpun.” Jelasnya, tangannya membuat lingkaran sihir di udara.
“Fire bolt.”
Aku mendongak begitu mendengar ucapannya. Sepuluh tombak api sedang mengarah tepat ke arahku.
Apa aku harus terbakar di tempat ini?
Aku…