The First Real Journey

By dreamcreator

[Chapter 2]

The First Real Journey

Tombak api itu sudah siap membakar tubuhku, aku hanya bisa terdiam.

Tidak!! Aku harus bertemu dengan Reynol.

“FROST DIVER!!”

Aku menengadahkan tangan kananku, memperlihatkan tangan kananku yang tidak terlindungi.

… Tidak terlindungi? Kurasa… Tangan kananku ini terlindungi dengan sesuatu yang sangat hebat.

Tak terkalahkan.

Mata yang semula tertutup terbuka. Menunjukkan iris mata berwarna merah darah, yang menginginkan darah sebagai makanannya.

Dari sana, muncul tombak es yang anehnya tidak berbenturan dengan tombak api tersebut.

Tombak es tersebut menyelimuti semua tombak api, langsung saja aku mengarahkan telapak tangan kananku ke arah Quin.

Mata Quin terbelalak melihat apa yang muncul di tanganku. Sesuatu yang kusembunyikan.

Mata dengan iris berwarna merah darah terlihat di tangan kananku, bukan sesuatu yang normal.

Kuharap dia akan membantuku bertarung dengan sihir.

Bukan, aku tahu benar mata ini.

Dialah yang akan bertarung!

Tombak api yang membeku tersebut mengubah arahnya ke arah Quin, dengan panik dia merapal mantra baru.

“Fire Wall!!”

Tembok api menghalangi tombak es tersebut, dan mau apalagi, sepertinya api terlalu panas untuk es.

Tombak e situ langsung meleleh, Quin langsung terduduk, tidak percaya apa yang barusan terjadi.

“A… Apa itu… Mata itu… Apa… Itu…”

Quin kelelahan, shock karena ia harus merapal mantra lebih cepat dari biasanya, serta melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat.

“Dream Making… Tidurlah, Quin…”

Aku memperlihatkan mata itu sekali lagi, mata yang setengah tertutup.

Lalu Quin ambruk, dan mata itu tertutup seluruhnya.

“Aaah… A-aku… Tidak percaya… Aku dikalahkan… Umur lima belas…”

Akhirnya dia tidak sadar sepenuhnya, sepertinya pertahanan magisnya cukup tinggi untuk dapat sadar beberapa detik.

Aku… Menang?

“Quin, aku pergi dulu… Aku sepertinya harus cepat-cepat bertemu Reynol…” Gumamku, lalu meninggalkan Quin yang tidak berdaya di daratan Geffen.

Aku melihat lagi telapak tangan kananku, matanya tertutup.

“Terima kasih…” Ujarku, lalu berjalan menuju kota Geffen.

Aku melihat ke menara Geffen, padahal aku berencana untuk memasukinya untuk ujian sebagai Wizard.

Tapi seperti yang dijanjikan Quin, kalau aku mengalahkannya, aku bisa selangkah lebih dekat dengan Professor misterius itu.

“Tuan, apa anda mau menggunakan jasa warp?”

Kafra cantik berambut coklat itu bertanya padaku, oh iya, aku baru ingat aku hendak pergi ke Juno.

“Ke…”

Begitu aku merogoh kantongku, aku baru sadar.

Uangku habis.

“Eh, maaf, tidak jadi!” Ujarku, aku langsung berjalan dengan lesu.

Uangku habis, mana mungkin aku harus mengumpulkan Jellopy dan menjualnya, itupun kalau ada yang mau membelinya.

Aku bersiul, depresi, menghadapi kenyataan yang pahit. Uangku habis, bagaimana caraku pergi ke Juno? Aku tidak mungkin berjalan ke Al De Baran, lalu ke Juno, sebelum tiba di Al De Baran bisa-bisa aku masuk Koran Prontera.

“Apa yang harus kulakukan…” Ujarku, bertanya pada diriku sendiri.

Aku melihat ke langit. Langit yang luas…

Eh, awannya lucu, ada yang bentuknya mirip Poring… Ah, yang itu mirip Lunatic…

Lho? Yang besar mirip Alarm…

Yang di…

BRUK!

“Owh, sial… Ma-maaf.” Ujarku, yang langsung berdiri.

Sial, aku menubruk seseorang… Tapi dia tidak bergeming.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya.

High Priestess dengan rambut kuning pucat panjang… Kulitnya putih dan halus.

Aku mencoba melihat wajahnya, aku mendongak karena dia lebih tinggi dariku.

Glek…

Mata merah… Dengan taring yang tajam…

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk dengan cepat, aura wanita ini menyeramkan… Aku… Aku mau pergi sekarang.

“Oh, kalau begitu, yasudah.”

High Priestess itu langsung pergi begitu saja, aura kegelapan seperti mengikutinya… Dan senjatanya…

Ukh… Aku merasa familiar… Itu…

Mjollnir…

Eh? Dia kan High Priestess, kenapa aku tidak minta tolong? Siapa tahu dia ada warp ke Al De Baran.

“Aah!! Tung-tunggu nona!!”

High Priestess itu berhenti, menoleh ke arahku.

Wah, dilihat-lihat wajahnya cantik, sepertinya dia umur duapuluhan. Wajahku sepertinya memerah sedikit.

“Enng… Bisakah kau membuka Warp Portal menuju Al De Baran?” Tanyaku, agak gugup.

Dia berpikir.

Semoga iya… Semoga iya…

“Maaf, tidak.”

AAAARGH!!!

“Ooh… Maaf, aku mengganggu…” Ujarku, walaupun wajahnya cantik, tapi seram juga melihatnya, firasatku agak tajam, wanita ini bukan sembarang orang.

“Aku mau ke Al De Baran, kau mau ikut?” Tanyanya.

“Eh, ikut?” Balasku, kebingungan.

“Yah jalan, mau apalagi, aku tidak punya uang untuk sementara ini, biayanya habis kupakai untuk memperbaiki senjataku, aku juga tidak bisa warp portal.”

Aah… Sepertinya tidak begitu melelahkan kalau ada teman, lagipula aku bisa selamat kalau ada orang yang sepertinya kuat ini bersamaku.

“Bo-boleh, kalau kau tidak keberatan!” Seruku antusias, wanita itu hanya melihatku sebentar.

“Ada baiknya kita berkenalan dulu, namamu siapa?” Tanyanya.

“G-Gyakko… Aku tidak punya marga… Memang aneh,” jawabku. Memang aneh sekarang orang yang tidak punya marga, padahal itu salah satu ketentuan untuk belajar di tempat manapun.

“Oh, tidak aneh. Aku juga tidak punya marga.”

“Eh?”

Ternyata ada juga orang yang sama denganku~~

“Aku Angel, sebaiknya kita berjalan sekarang, biar kalau sudah malam kita sudah sampai di suatu kota. Monster di malam hari jauh lebih berbahaya.”

Angel langsung berjalan menuju pintu keluar Geffen, menenteng gada raksasanya dengan ringan, bersiul pelan.

“Ah!! Tung-tunggu!!”

Aku langsung berlari mengikutinya.

Dengan begini… Aku lebih dekat selangkah lagi dengan Reynol, aku pasti akan menemukan jawaban atas pertanyaanku ini…

Pasti.

“Hei, apa tujuanmu ke Al De Baran, Angel?”

Aku bertanya saat sampai di gerbang Geffen. Kedua penjaga yang tidak terlihat lelah menjaga gerbang membuka gerbang tersebut, mempersilahkan kami berdua keluar.

“Aku mau ke Juno… Aku HARUS bertemu dengan seseorang.”

Tiba-tiba aura menyeramkan yang tadi kurasakan keluar lagi. Sebenarnya rasanya tidak asing lagi bagiku… Aura ini…

Aura seorang dewa, aku semakin penasaran dengan dirinya yang sebenarnya.

“Ahahaha, aku juga… Kalau begitu, semoga perjalanan ini cukup menyenangkan,” aku menutup pembicaraan, sepertinya akan semakin berbahaya kalau Angel terlalu bersemangat.

“Oh iya, kau tidak apa? Kau seorang Mage Knight, bukan? Kenapa tidak membawa pedang?” Tanyanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa… Apa aku harus jujur?

“Aku… Pedangku pecah saat hendak kutempa, Aragham memang mempunyai kemampuan menempa yang hebat, sayangnya dia lebih sering memecahkan barang yang ditempanya.”

Ah… Aku berbohong… Semoga ia tidak tahu…

“Benarkah?” Tanyanya, mata merahnya menusuk mata hijauku.

Jangan bilang dia tahu aku berbohong.

“Kalau begitu, semoga diperjalanan kau menemukan yang baru.” Lanjutnya.

“Ah… Semoga…”

Kenapa… Aku berbohong?

Satu Tanggapan ke “The First Real Journey”

  1. eMina Berkata:

    ga nyangka anju mahir membuat cerita, tapi lebih ke skrip drama ya.
    kayak cerita game ya ^_^

Tinggalkan Balasan