Chapter 3
The Satan.
Kami berdua keluar dari daerah Geffen.
Bosan… Angel hanya diam saja, yang menimbulkan suara berisik palingan hanya Poporing yang melompat-lompat. Coco yang menggigiti biji kenari yang didapatnya. Dan suara kepakan sayap Stainer. Selain itu, hanya ada suara langkah kami berdua.
Bosan…
Kalau begini, tidak ada bedanya dengan berjalan sendirian.
“Angel, bagiamana kau dapat palu itu?” Tanyaku, memecah keheningan.
Aku bisa gila lama-lama kalu berada di situasi hening seperti ini!!
“Palu ini sudah ada pas aku lahir, aku juga tidak tahu bagaimana dapatnya.”
Angel memutar-mutar gagang palu itu dengan kelima jarinya. Apa tidak berat ya?
“Angel, jangan diputar-putar dong, aku takut palunya kena aku,” ujarmu. Memang agak menyeramkan sih kalau andaikan palu itu tiba-tiba salah mendarat.
Angel langsung memegang gagang Mjollnirnya lalu membawanya seperti biasa.
Ughh… Lama-lama aku gila…
Seseorang… Bicaralah… Ay–
“Tung-tunggu, a-aku masih ada urusan.”
Aah!! Akhirnya aku mendengar ada suara seseorang!! Aku langsung menoleh.
Seorang acolyte manis. Dikelilingi oleh para lelaki yang sepertinya sedang menggodanya.
Seorang Swordman berambut merah pendek. Thief berambut coklat acak-acakan yang memakai google. Merchant dengan rambut pirangnya, wajahnya menyebalkan, sepertinya mereka semua dari guild yang sama.
Aku menoleh ke arah Angel, dia memang berhenti berjalan, tapi sepertinya tidak ada niat untuk menolong.
“Ahahaha, apa tidak apa-apa berjalan di sekitar sini? Apalagi daratan di dekat sini kan banyak monster agresifnya.”
Sang Merchant menakut-nakuti acolyte itu, memang di daerah sini tidak berbahaya sih… Tapi di dekat sini monsternya harus diwaspadai.
“Mau kami temani saja?”
Ugh… Thief itu malah tebar pesona. Padahal acolyte itu sudah menolaknya, kenapa sih?
“Ti-tidak perlu…” Ujar Acolyte berambut pirang itu, berusaha lepas dari ketiga orang tersebut.
“Tidak usah sungkan-“ Swordman itu langsung menarik tangan sang acolyte.
Aku tidak tahan melihatnya!!
“Hei kali-“
“Bisakah kalian hentikan?” Tanya Angel.
Entah karena sifatku yang suka mendramatisir atau apa, tapi aku merasa ada angin sepoi-sepoi yang bertiup.
Semuanya terdiam lagi.
Tiba-tiba Swordman itu membuka mulutnya.
“Hei, siapa kau? Beraninya memerintah kami?” Tanyanya dengan nada ‘nyolot’.
Coba di sini sepi… Aku ingin cepat-cepat membuatnya bermimpi di sini. Tapi tidak mungkin, ada acolyte itu, Angel, dan juga teman-temannya.
“Ah, kakak manis juga, mau bermain bersama kami?” Tanya sang Merchant sambil mengeluarkan senyum tebar pesona. “Setidaknya lebih baik daripada dengan Swordsman lusuh seperti itu.”
Ku-kurang ajar!! Siapa yang kau bilang ‘lusuh’?! Aku sudah tidak tahan, aku akan mengaktifkan ‘Halt’, setidaknya aku intin menumbangkan Merchant sial itu!
“He-hei… Kalau ti-tidak salah… Kakak itu…”
Thief itu berbisik sedikit ke arah si Merchant. Wajahnya agak pucat, aku hanya bias mendengar sedikit pembicaraannya.
“Aku pernah dengar tentang swordsman ini, dan aku tahu dia lebih baik dari kalian.”
Angel mengangkat Mjollnirnya.
Seekor[?] Poporing lewat.
…
Pemandangan yang menakjubkan.
Mjollnir itu menghancurkan Poporing malang yang tidak sengaja lewat di depan Angel, bahkan cipratan jelinya tidak terlihat. Bisa dilihat ada bunga api dan sedikit petir yang berkelibat di sekitar Mjollnir.
Tertanam di tanah.
“Apa kalian mau berakhir seperti poporing itu?” Tanya Angel. Mata merahnya menatap ketiga lelaki itu dengan tajam. Taringnya pun menambah nuansa menyeramkan di wajahnya.
Aku merinding. Tubuhku gemetar.
Itu…
Setan.
“Ba-baiklah!! Kami pergi!!”
Ketiga orang itu langsung saja lari terbirit-birit, wajarlah kalau mereka kabur. Kakiku saja sudah lemas melihatnya.
Eh?! Bagaimana dengan acolyte itu?!
Aku melihat Acolyte itu shock, tidak bisa berkata apa-apa.
“Aaah… An-angel…?”
Angel menoleh ke arah Acolyte itu. Wajah Acolyte itu ketakutan.
“Darimana kau tahu namaku?” Tanya Angel.
Sepertinya dia sudah biasa ditakuti… Aku bingung, jadi selama ini aku berjalan dengan setan!?!
Untung aku tidak macam-macam dengannya tadi… Kalau tidak, aku sudah berakhir menjadi Poporing… Eh, maksudnya, seperti Poporing tadi.
“Ah… Tidak, a-aku hanya pernah melihat wajahmu dulu… Di-di Gereja…” Ujar sang Acolyte ketakutan, tubuhnya sudah gemetar.
Bersiap-siap pergi.
“Tung-tunggu, kau mau kemana??” Tanyaku memberanikan diri. Acolyte itu kaget. Well… Orang yang berjalan bersama setan biasanya setan juga.
“Ehmm… Tenang saja, aku ini orang baik kok, aku juga tidak bawa senjata.” Ujarku sambil memperlihatkan tanganku. Untung ‘dia’ masih tertidur, kalau tidak, bisa teriak dia.
“Aah… Aku hendak ke Al De Baran… Aku harus mengantarkan sesuatu ke ketua akademi Alchemist di sana, lalu… Aku harus ke Lighthalzen…” Jelasnya, sudah agak tenang, setidaknya.
“Lighthalzen? Kalau begitu kau harus ke Juno untuk menaiki airshipnya, bagaimana kalau kau ikut kami? Kami mau ke Juno juga,” ujarku sambil tersenyum lebar.
“Ung… Ba-baiklah…” Ujarnya.
“Seperti yang kau ketahui, namanya Angel.” Aku menunjuk Angel dengan ibu jariku.
“Aku Gyakko.”
“Ehm… Aku… Hideco…” Jawabnya.
Nama yang unik…
“Kalau begitu… Kita lanjut saja, lagipula sudah ada Angel, masalah monster agresif bukan lagi sebuah mas- Eh!! Angel!! Jangan tinggalkan kami!!”
Padahal aku belum menyelesaikan kalimatku, Angel malah meninggalkan kami begitu saja. Terpaksa aku harus berlari mengikutinya.
Yah… Semakin banyak semakin baik, bukan?
Desember 6, 2008 pukul 8:52 am
wew