“A-apa yang terjadi…?”
Mata Angel terbelalak. Istana Prontera sudah dipenuhi darah. Para penjaga semuanya tewas dalam satu serangan. Rata-rata tebasan.
“Hoi oi, apa yang sebenarnya terjadi, sih?” Tanya Angel ke dirinya sendiri.
“Pembunuhan massal, sepertinya Assassin yang melakukannya… Tebasan yang halus… Assassin Cross… Ketua asosiasi? Bukan…”
Angel menganalisis keadaan sekitar, tidak ada tebasan yang sia-sia. Yang bisa melakukannya hanyalah seseorang yang berkemampuan seperti Niigozeroku, serta kecepatan seperti Koya.
”Apa yang sebenarnya terjadi?”
BRUK!!
Mendengar ada sesuatu yang terjatuh, Angel langsung menengok ke arah belakang. Seorang petugas dokumen kerajaan terperangah melihatnya. Dokumen yang dibawanya berserakan di lantai, bercampur dengan warna darah.
“Huwaaaaaaaaaa!!!!” Petugas dokumen itu langsung lari terbirit-birit menuju arah keluar, berusaha kabur dari sang buronan. Sang pembunuh.
“Gawat… Bisa-bisa harga kepalaku dinaikkan…”
……
Sesuai dugaannya. Harga untuknya dinaikkan.
Tersangka pembunuhan massal di istana Prontera. Serta penculikan raja.
Sampai sekarang Tristan III masih belum ditemukan. Di singgasananya hanya tertinggal mahkota kerajaannya.
Angel tidur-tiduran di atap salah satu perumahan Morocc. Para penduduk tidak merasa aneh kalau merasa ada yang berlarian di atap rumahnya karena itu sudah lumrah bagi mereka.
Angel juga bisa sedikit tenang, karena biasanya penduduk Morocc tidak mempedulikan kata-kata Tristan, sehingga Angel tidak menjadi buronan di Morocc.
Angel menutupi matanya dari sinar matahari yang silau. Udara gersang membuatnya sedikit lelah.
“Aku… Mengantuk…”
…
Siapa aku?
Aku Angel. Aku Hallimdor.
Siapa perempuan itu?
Dia Hel. Dia ibuku.
Lalu, siapa laki-laki itu?
Dia Loki. Ayah dari Hel.
Siapa kamu?
Kamu kakakku.
Bayangan Morocc. Morocc’s Shadow.
Bukan, itu bukan kamu.
Kamu adalah pelayan dari Satan of Morocc.
Bukan juga.
Kamu… Siapa?
…
Angel tiba-tiba terbangun. Dirinya seperti mengingat sesuatu yang telah lama dilupakan.
“Morocc’s… Shadow…?”
“Satan of Morocc…?”
“Morocc… Kehancuran?”
Kata-kata itu terngiang di pikiran Angel. Entah kenapa ingatannya tercampur aduk.
“Aku… Hallimdor.”
.
.
.
.
“Kak Angeelll!! Bisa ambilkan mainanku yang tersangkut di atap tidak??”
Angel melongokkan kepalanya. Seorang anak kecil tengah menunjuk ke arah atap yang sedang ditempatinya.
Bola berwarna merah yang kotor kena pasir dan debu. Angel mengambilnya dan menjatuhkannya ke bawah.
“Jangan kau lempar tinggi-tinggi, nanti tidak bisa diambil.” Angel mengambilnya lalu melemparnya ke bawah. Anak kecil yang tadi memanggil Angel ekspresinya berubah menjadi senang, lalu kembali melemparkannya di udara sambil berlari ke arah pasar Morocc.
“Hhh… Siapa dia… Aku tidak bisa mengingatnya…” Angel bergumam, kembali berbaring di atas atap.
“Kakak…?”
Angel tertidur lagi. Berharap ia bisa mengingat sosok itu.
…
“GAAH!! AKU TIDAK BISA TIDUR DI TEMPAT YANG PANAS INI!!!” Angel tiba-tiba terbangun dan berteriak. Penghuni rumah itu hanya bisa geleng-geleng mendengar teriakan Angel yang… Bisa dibilang lebih keras dari speaker manapun.
Angel melompat kebawah, debu-debu di sekitar kakinya berterbangan, lalu dengan ia berjalan menuju Kafra, bertujuan untuk warp ke tempat yang lebih sejuk. Tapi bukan Lutie.
Dalam lima menit ia sudah sampai ke Kafra yang bertugas di sana, dan itu membuat orang yang biasanya tinggal di Morocc kebingungan.
Biasanya untuk mencapai Kafra dari luar pasar Morocc membutuhkan kurang lebih sepuluh menit karena ramainya orang-orang yang berjualan di sana, ataupun hanya duduk-duduk, tapi entah kenapa kali ini terlihat agak sepi.
“Tumben hari ini sepi.”
Seorang Huntress sedang bercakap-cakap dengan Priest yang berada di sebelahnya, sepertinya mereka berdua sedang mencari keperluan mereka untuk berburu.
“Daripada di sini lebih baik kita ke Payon, entah kenapa banyak yang ke sana.” Jawab Priest yang berada di sebelah sang Huntress. Mereka berdua langsung memakai jasa warp Kafra untuk ke Payon.
Angel melirik mereka, memang belakangan ini Payon lebih ramai, apa mungkin disebabkan karena Morroc sering terjadi gempa kecil-kecilan tiba-tiba?
Tiba-tiba Angel teringat sesuatu.
Gempa itu jelas-jelas menakutkan, seluruh perumahan di Morroc hancur, semua orang berlarian mencari perlindungan, namun banyak yang bahkan tidak bisa berdiri dari tempatnya karena guncangan dan menerima nasib tertimpa oleh batu-batuan dari rumah yang hancur. Kematian selalu tampil di ingatannya, tidak hanya karena gempa tersebut, Morroc juga diserang oleh sekumpulan monster.
“EAAAARRGHHH!!!” Angel mengerang, kepalanya terlalu sakit untuk menerima semua gambaran itu.
Begitu ia sadar, dia sudah tidak berada di Morroc, melainkan berada di tempat guildnya. Ia terduduk di sofa tempat biasa Koya bermalas-malasan.
“Ho- Hoi, suaramu besar sekali, mimpi buruk lagi?”
Angel menoleh ke arah suara tersebut, seorang Assassin berambut biru panjang berntakan menutup telinganya. Sedangkan Assassin wanita serba hitam di sebelahnya hanya terdiam.
“Aku… Kok bisa di sini? Tadi rasanya masih di Morroc…” Gumam Angel sambil melihat ke sekitar, tidak ada orang lain selain mereka bertiga.
“Angel… Angel… Memang kejadian itu sangat berat, tapi masa kau tidak bisa menahannya sih??” Tanya Koya.
“Hah?” Angel semakin bingung dengan pertanyaan Koya, “Maksudnya apa? Memangnya ada apa sih?”
“Astaga… Angel… “ Gumam Koya. “Bukan cuma kau yang tidak terima akan hal itu… Jadi jangan bersikap seperti itu, tepatnya… Berhentilah bersikap begitu.”
*Krieett…*
Terdengar suara pintu terbuka, di balik pintu itu muncul seorang High Wizard yang nampak sangat berwibawa, Courius Curius.
“Angel, kau sudah sadar? Raunganmu terdengar dari pintu depan…” Ujar Courius sambil tersenyum.
“Courius, jelaskan ke dia lagi, aku sudah lelah menjelaskannya.” Keluh Koya.
“Apa maksudmu!!” Seru Angel sambil menarik senjatanya yang selalu berada di dekatnya, Koya langsung kabur ke belakang Courius.
“Sudah satu bulan berlalu, pasti dia akan menerimanya juga…” Ujar Courius ke Koya, Niigozeroku hanya menyetujui kata-kata Courius dengan menganggukan kepalanya.
“Lebih baik kalian jelaskan dengan cepat apa maksud semua ini- Kenapa aku di sini, raasnya terakhir kali aku ada di Morroc dan…”
“Biar aku jelaskan.” Ujar Courius, ia berjalan dan duduk di salah satu bangku yang terdekat dengan tempat Angel duduk.
“Kau memang berada di Morroc, tapi itu satu bulan yang lalu.” Ujar Courius.
Angel terdiam.
“Bulan lalu, memang terjadi gempa dashyat, perumahan hancur dan banyak korban… Terlebih lagi…” Courius terdiam.
“Sepertinya kau sudah tahu Angel… Apa yang terjadi setelahnya… Dan itu yang membuatmu seperti ini selama sebulan ini.” Jelas Courius, lalu berdiri.
“Kau benar Courius…” Jawab Angel, ia menghela nafas.
“Alasannya…”
Angel meneguk ludah, terbesit ingatan-ingatan sekilas di otaknya, namun yang sangat jelas tergambar adalah… Seorang setan bersayap coklat, dengan gada yang besar di tangan kanannya.
Bayangan Morroc.
“Ada kakakku.”
April 13, 2008 pukul 2:54 pm
B-blog ini serba putih….
*ga fokus*
April 14, 2008 pukul 1:55 pm
@atas
gak diutak-utik… cuma buat tempat penampungan fanfic in progress kok –v
Juni 19, 2008 pukul 7:42 am
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Coolly.
Desember 6, 2008 pukul 8:51 am
cool…ceritakan lagi lebih banyak ttg gw dunk…cara ngelubangin kota morroc…ama ngehancurin sograt..gyahahahahaha