Angel sekarang berada di salah satu atap rumah Morroc yang tidak hancur. Bagi orang lain sangatlah mudah untuk meninggalkan Morroc, para penduduknya sekalipun, siapa yang tidak takut setelah para monster mendatangi mereka? Kecuali Angel sendiri yang melihat seseorang yang merupakan pengguna gada raksasa, walaupun bukan Mjollnir.
Ia duduk memeluk lututnya, gadanya tetap berada di sampingnya. Tatapan matanya kosong. Dirinya yang sudah menetap di Morroc mereka kehilangan tempat tinggalnya, entah kenapa ada yang mengikatnya, walaupun Morroc hancur, dirinya tidak bisa meninggalkan Morroc.
”Lebih baik kau tingal di Einbroch… Di sana ada kenalanku”
Kata-kata Courius sama sekali tidak digubris olehnya.
”Kenapa kau tidak kembali ke Prontera saja? Pada dasarnya kau masih High Priestess, kalau kau ke Gereja pasti masih di terima… Terlebih lagi tidak ada bukti kau membunuh mereka, bukan?”
Saran jadi Zero, kependekan dari Niigozeroku, juga tidak didengarkan, para perdana mentri Prontera tidak terlalu baik untuk menerimanya.
“Lagi-lagi kau terdiam seperti ini… Sudah berapa lama tidak kulihat? Sepuluh tahun? Atau limapuluh?”
Suara berat itu terdengar, Angel tidak sanggup menoleh, suara itu terlalu familiar dengannya.
“Takut? Sepertinya kau memang manusia…”
Suara berat itu terdengar makin jelas, di sampingnya. Angel menggigil, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Yang ditakuti bukanlah kekuatan asal suara yang didengarnya, bisa asja Angel melawannya dengan Mjollnir miliknya.
Namun ‘relasi’ lah yang ditakutinya.
Angel merasa ada yang memeluknya, namun yang didapatkannya hanyalah rasa dingin yang kelam. Rasa ini sering dialaminya dan Angel bisa melewatinya dengan mudah, sebagai setengah dewa, cobaan semacam ini bukanlah suatu halangan.
Namun ‘relasi’ itu membuat cobaan yang kali ini terasa lebih berat, bahkan ada kemungkinan Angel tidak bisa melewatinya sendirinya.
“Angel… Kau tidak sendirian… Masih ada kami…”
Suara itu berbisik di telinga Angel.
“Kakak…
Aku takut.”
Di belakang Angel nampak bayangan Morroc, tangan itu memeluk Angel dan sayapnya menyelubungi tubuhnya. Aura jahat serta baik bercampur di sekeliling mereka. Asap hitam muncul dimana-mana.
Morroc’s Shadow… Tipe malaikat.
“Angel, panggil namaku…” Ujarnya.
“…” Angel terdiam.
Angin panas berhembus. Tangan Angel bergerak. Mjollnirnya ia ayunkan ke belakangnya, suara sabetannya bahkan sanggup membuat seorang Novice ketakutan.
”Ilusi?” Batin Angel. Ia sendirian di Morroc, tidak ad akehidupan sama sekali.
“Lagi-lagi kau terdiam seperti ini… Sudah berapa lama tidak kulihat? Sepuluh tahun? Atau limapuluh?”
“Takut? Sepertinya kau memang manusia…”
“Angel… Kau tidak sendirian… Masih ada kami…”
“Angel, panggil namaku…”
“Itu tidak mungkin ilusi…” Ujar Angel tidak bersuara, gerak bibirnya terlihat tidak jelas.
Angel melompat turun ke bawah, meninggalkan bayangan yang sedaritadi menjaganya saat sendirian.
“Angel… Kau tahu… Rasanya sakit tidak mempunyai nama…”
Suara itu menghilang bersama angin panas Morroc. Angel tidak menoleh lagi. Lagi-lagi tubuhnya gemetaran. Benar, ia terlalu takut untuk ini. Angel berpikir, apa ini ujian dari Odin untuknya? Atau malah kejahilan kakeknya, kalau Loki adalah dalang semua ini, Angel pasti akan menghadiahkan setidaknya sepuluh pukulan untuknya.
Angel tertegun, selangkah sebelum ia keluar dari kota Morroc, terdengar raungan monster yang menyeramkan. Tapi untuk Angel, suara ini tidaklah lebih dari teriakan Condor. Suara berat khas kakaknya itu lebih menyakitkan.
“Ha…”
“Al…”
“Im…”
“Dor…”
Angel secara reflek melihat ke ara langit. Morroc yang biasanya terik sekarang terselubung kegelapan. Matanya langsung mengarah ke tempatnya yang dulunya kolam Morroc, tempat yang diduga Angel mengeluarkan suara aneh tersebut.
Mata Angel terbelalak, tidak percaya apa yang dilihatnya. Setan. Wujudnya tidak jelas seperti asap, namun mata Angel bisa melihat dengan jelas. Tubuh raksasa, dengan mata kuning yang terbuka di lengannya. Taring yang sanggup mengoyak Detale sekalipun. Bukan setan seperti yang di Glast Heim. Bukan setan segala keburukan manusia, Thanatos. Bukan setan seperti dirinya.
Setan Morroc… Satan of Morroc.
Angel langsung berbalik, setidaknya lepas dari pengaruh kota tersebut. Morroc jadi tempat penuh ilusi untuknya. Rasanya ingin Angel merusak matanya yang berwarna merah darah itu agar berhenti menghantui pikirannya, namun suara berat itu tetap saja menghantui. Andaikan Angel merusak pendengarannya, setan itu terlalu kejam dengan memberinya ketakutan lewat sentuhan.
Angel sekarang hanya ingin satu hal. Ia ingin bereinkarnasi sekali lagi. Melepas semua bebannya sebagai setengah dewa.
Di luar kota tersebut, Zero menunggu tepat di luar pintu masuk. Menunggu dengan tenang, terkadang melempar pisau untuk menghancurkan Drops yang melewatinya terus-menerus.
Kegiatannya terganggu dengan suara Angel yang keluar dari kota tersebut dengan nafas tersengal-sengal. Alamat buruk, pikir Zero. Dugaan Assassin itu benar setengahnya, tangan Angel langsung meraih bahu Zero, untuk tempatnya berdiri.
“Apa yang kau lihat?” Tanya Zero sambil memapah Angel.
Angel mengambil nafas, ia berbicara tanpa mengeluarkan suara, Zero membaca gerak bibirnya.
Langsung saja Zero tersenyum tipis.
“Kau hebat…” Pujinya ke Angel, yang hanya dibalas dengan senyum masam. Tangan kirinya memegang Mjollnir.
”Aku tidak sanggup untuk melihat setan itu, bahkan untuk membayangkannya… Tetapi ia melihatnya lagi…” Batin Zero, mereka berjalan menuju kota Payon.
Sementara itu di Aldebaran…
“Kenapa kita harus inspeksi kota begini sih?” Tanya Koya, mengeluh pada Courius mengenai idenya untuk melihat beberapa dungeon, sekaligus mengecek kota.
“… Entah kau tahu apa tidak… Tapi di sini mungkin ada ‘senjata’ yang kita butuhkan…” Ujar Courius sambil melirik ke arah Koya. Tatapan dingin dan tajam itu membuat Koya terdiam. Ia belum pernah mendengar tentang senjata yang diucapkan Courius, yang ia tahu, senjata untuk guild mereka adalah mereka sendiri.
“Maksudnya, boneka?” Tanya hunter berambut hijau, Yoshio Kotake, sambil memainkan busurnya.
“Koya, sering-seringlah ngobrol dengan yang lain, kurasa hanya kamu yang tidak tahu senjata kita kali ini…” Ujar Courius, menggoda Koya yang sekarang tersenyum masam.
“Aku setidaknya tahu, kalau senjata yang dimaksudmu itu jantung Clock Tower, tapi aku tidak tahu bentuknya, itu saja.” Balas Koya sambil mencibir ke Courius.
“Kalau kau tahu pasti kau kaget.” Ujar Courius sambil memasuki Clock Tower. Mereka melewati jam tua berjalan, namun karena tidak mengganggu jadi ia biarkan begitu saja, kecuali beberapa Punk yang seenaknya menyerang mereka, dengan sihir Courius dan sabetan Koya, ditambah jebakan-jebakaa yang dipasang oleh Yoshio Kotake, untuk melewatinya bukanlah suatu tantangan.
Semakin mereka ke atas, para monster semakin agresif, alarm menyerang mereka tanpa henti, Own Duke, atau kalau lagi sial, Owl Baron turut campur dalam urusan mereka. Courius merapal sihirnya dengna cepat, beberapa kombo sihir dirapalnya. Koya menggunakan kecepatannya untuk mengecoh para monster, dibantu dengan jebakan Yoshio. Mayat alarm berserakan, sepanjang jalan penuh dengan jam rusak, jarum jam yang patah, dan segala jenis sampah lainnya.
Namun kelelahan mereka berubah menjadi kekagetan.
Jantung mereka berdebar kencang, untuk Courius sekalipun yang biasanya tenang, tatapan matanya tegang. Senjata mereka kali ini memang benar-benar senjata terbaik untuk mereka.
Angel- Bukan, replikanya, dalam bentuk boneka kosong. Tergantung dibalik jam Clock Tower yang merupakan ikon Aldebaran. Siapa sangka di balik ikon itu terdapat sesuatu yang sangat menyeramkan? Suara roda gerigi yang memukul satu sama lain menambah kesuraman tempat tersebut.
Mata boneka itu kosong. Persis saat Angel saat ini.
“Siapa yang membuatnya…?” Tanya Yoshio. Ini pertama kali ia melihatnya, sepertinya begitu pula dengan Courius.
“Aku tidak pasti… Angel pernah memberitauhku soal boneka… Tapi aku tidak tahu bentuknya,” jawab Courius sambil mengingat-ingat ucapan Angel saat itu. Saat ia sendiri masih menjadi Wizard.
”Courius, aku akan bergabung dengan guildmu, dan akan menjadi senjata bagi guild ini.”
“Di saat aku tidak berguna… Pergilah ke puncak Clock Tower, di balik jam menara itu sudah kusiapkan senjata buatan kakekku, Loki.”
“Bentuknya boneka, jadi cukup mencolok.”
“Aku masih mempunyai sifat manusia… Saat rasa takut itu menyerangku, pakailah boneka itu sebagai penggantiku…”
Courius paham akan perkataan Angel sekarang.
“Courius. Bagaimana cara menurunkannya?” Tanya Koya. “Tidak mungkin bisa diturunkan semudah itu, roda gerigi itu sangat bergantung para boneka itu, seperti katamu, jantung Clock Tower. Para roda gerigi itu memenjara boneka itu.”
Courius terdiam. Ia lalu tersenyum.
“Aku juga tidak tahu…” Ujarnya.
Mereka semua terdiam. Yoshio menatap Courius dengan pandangan bingung dan heran, tidak kurang sweat-drop di kepalanya. Koya menghela nafas.
“Koya… Kau cari Angel… Dan kembali ke sini untuk memberitahu caranya… Kita butuh boneka ini bagaimanapun caranya.”