Arsip untuk ‘Chronology of an 'Angel'’ Kategori

Replica

April 16, 2008

Angel sekarang berada di salah satu atap rumah Morroc yang tidak hancur. Bagi orang lain sangatlah mudah untuk meninggalkan Morroc, para penduduknya sekalipun, siapa yang tidak takut setelah para monster mendatangi mereka? Kecuali Angel sendiri yang melihat seseorang yang merupakan pengguna gada raksasa, walaupun bukan Mjollnir.

Ia duduk memeluk lututnya, gadanya tetap berada di sampingnya. Tatapan matanya kosong. Dirinya yang sudah menetap di Morroc mereka kehilangan tempat tinggalnya, entah kenapa ada yang mengikatnya, walaupun Morroc hancur, dirinya tidak bisa meninggalkan Morroc.

”Lebih baik kau tingal di Einbroch… Di sana ada kenalanku”

Kata-kata Courius sama sekali tidak digubris olehnya.

”Kenapa kau tidak kembali ke Prontera saja? Pada dasarnya kau masih High Priestess, kalau kau ke Gereja pasti masih di terima… Terlebih lagi tidak ada bukti kau membunuh mereka, bukan?”

Saran jadi Zero, kependekan dari Niigozeroku, juga tidak didengarkan, para perdana mentri Prontera tidak terlalu baik untuk menerimanya.

“Lagi-lagi kau terdiam seperti ini… Sudah berapa lama tidak kulihat? Sepuluh tahun? Atau limapuluh?”

Suara berat itu terdengar, Angel tidak sanggup menoleh, suara itu terlalu familiar dengannya.

“Takut? Sepertinya kau memang manusia…”

Suara berat itu terdengar makin jelas, di sampingnya. Angel menggigil, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Yang ditakuti bukanlah kekuatan asal suara yang didengarnya, bisa asja Angel melawannya dengan Mjollnir miliknya.

Namun ‘relasi’ lah yang ditakutinya.

Angel merasa ada yang memeluknya, namun yang didapatkannya hanyalah rasa dingin yang kelam. Rasa ini sering dialaminya dan Angel bisa melewatinya dengan mudah, sebagai setengah dewa, cobaan semacam ini bukanlah suatu halangan.

Namun ‘relasi’ itu membuat cobaan yang kali ini terasa lebih berat, bahkan ada kemungkinan Angel tidak bisa melewatinya sendirinya.

“Angel… Kau tidak sendirian… Masih ada kami…”

Suara itu berbisik di telinga Angel.

“Kakak…

Aku takut.”

Di belakang Angel nampak bayangan Morroc, tangan itu memeluk Angel dan sayapnya menyelubungi tubuhnya. Aura jahat serta baik bercampur di sekeliling mereka. Asap hitam muncul dimana-mana.

Morroc’s Shadow… Tipe malaikat.

“Angel, panggil namaku…” Ujarnya.

“…” Angel terdiam.

Angin panas berhembus. Tangan Angel bergerak. Mjollnirnya ia ayunkan ke belakangnya, suara sabetannya bahkan sanggup membuat seorang Novice ketakutan.

”Ilusi?” Batin Angel. Ia sendirian di Morroc, tidak ad akehidupan sama sekali.

“Lagi-lagi kau terdiam seperti ini… Sudah berapa lama tidak kulihat? Sepuluh tahun? Atau limapuluh?”

“Takut? Sepertinya kau memang manusia…”

“Angel… Kau tidak sendirian… Masih ada kami…”

“Angel, panggil namaku…”

“Itu tidak mungkin ilusi…” Ujar Angel tidak bersuara, gerak bibirnya terlihat tidak jelas.

Angel melompat turun ke bawah, meninggalkan bayangan yang sedaritadi menjaganya saat sendirian.

“Angel… Kau tahu… Rasanya sakit tidak mempunyai nama…”

Suara itu menghilang bersama angin panas Morroc. Angel tidak menoleh lagi. Lagi-lagi tubuhnya gemetaran. Benar, ia terlalu takut untuk ini. Angel berpikir, apa ini ujian dari Odin untuknya? Atau malah kejahilan kakeknya, kalau Loki adalah dalang semua ini, Angel pasti akan menghadiahkan setidaknya sepuluh pukulan untuknya.

Angel tertegun, selangkah sebelum ia keluar dari kota Morroc, terdengar raungan monster yang menyeramkan. Tapi untuk Angel, suara ini tidaklah lebih dari teriakan Condor. Suara berat khas kakaknya itu lebih menyakitkan.

“Ha…”

“Al…”

“Im…”

“Dor…”

Angel secara reflek melihat ke ara langit. Morroc yang biasanya terik sekarang terselubung kegelapan. Matanya langsung mengarah ke tempatnya yang dulunya kolam Morroc, tempat yang diduga Angel mengeluarkan suara aneh tersebut.

Mata Angel terbelalak, tidak percaya apa yang dilihatnya. Setan. Wujudnya tidak jelas seperti asap, namun mata Angel bisa melihat dengan jelas. Tubuh raksasa, dengan mata kuning yang terbuka di lengannya. Taring yang sanggup mengoyak Detale sekalipun. Bukan setan seperti yang di Glast Heim. Bukan setan segala keburukan manusia, Thanatos. Bukan setan seperti dirinya.

Setan Morroc… Satan of Morroc.

Angel langsung berbalik, setidaknya lepas dari pengaruh kota tersebut. Morroc jadi tempat penuh ilusi untuknya. Rasanya ingin Angel merusak matanya yang berwarna merah darah itu agar berhenti menghantui pikirannya, namun suara berat itu tetap saja menghantui. Andaikan Angel merusak pendengarannya, setan itu terlalu kejam dengan memberinya ketakutan lewat sentuhan.

Angel sekarang hanya ingin satu hal. Ia ingin bereinkarnasi sekali lagi. Melepas semua bebannya sebagai setengah dewa.

Di luar kota tersebut, Zero menunggu tepat di luar pintu masuk. Menunggu dengan tenang, terkadang melempar pisau untuk menghancurkan Drops yang melewatinya terus-menerus.

Kegiatannya terganggu dengan suara Angel yang keluar dari kota tersebut dengan nafas tersengal-sengal. Alamat buruk, pikir Zero. Dugaan Assassin itu benar setengahnya, tangan Angel langsung meraih bahu Zero, untuk tempatnya berdiri.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Zero sambil memapah Angel.

Angel mengambil nafas, ia berbicara tanpa mengeluarkan suara, Zero membaca gerak bibirnya.

Langsung saja Zero tersenyum tipis.

“Kau hebat…” Pujinya ke Angel, yang hanya dibalas dengan senyum masam. Tangan kirinya memegang Mjollnir.

”Aku tidak sanggup untuk melihat setan itu, bahkan untuk membayangkannya… Tetapi ia melihatnya lagi…” Batin Zero, mereka berjalan menuju kota Payon.

Sementara itu di Aldebaran…

“Kenapa kita harus inspeksi kota begini sih?” Tanya Koya, mengeluh pada Courius mengenai idenya untuk melihat beberapa dungeon, sekaligus mengecek kota.

“… Entah kau tahu apa tidak… Tapi di sini mungkin ada ‘senjata’ yang kita butuhkan…” Ujar Courius sambil melirik ke arah Koya. Tatapan dingin dan tajam itu membuat Koya terdiam. Ia belum pernah mendengar tentang senjata yang diucapkan Courius, yang ia tahu, senjata untuk guild mereka adalah mereka sendiri.

“Maksudnya, boneka?” Tanya hunter berambut hijau, Yoshio Kotake, sambil memainkan busurnya.

“Koya, sering-seringlah ngobrol dengan yang lain, kurasa hanya kamu yang tidak tahu senjata kita kali ini…” Ujar Courius, menggoda Koya yang sekarang tersenyum masam.

“Aku setidaknya tahu, kalau senjata yang dimaksudmu itu jantung Clock Tower, tapi aku tidak tahu bentuknya, itu saja.” Balas Koya sambil mencibir ke Courius.

“Kalau kau tahu pasti kau kaget.” Ujar Courius sambil memasuki Clock Tower. Mereka melewati jam tua berjalan, namun karena tidak mengganggu jadi ia biarkan begitu saja, kecuali beberapa Punk yang seenaknya menyerang mereka, dengan sihir Courius dan sabetan Koya, ditambah jebakan-jebakaa yang dipasang oleh Yoshio Kotake, untuk melewatinya bukanlah suatu tantangan.

Semakin mereka ke atas, para monster semakin agresif, alarm menyerang mereka tanpa henti, Own Duke, atau kalau lagi sial, Owl Baron turut campur dalam urusan mereka. Courius merapal sihirnya dengna cepat, beberapa kombo sihir dirapalnya. Koya menggunakan kecepatannya untuk mengecoh para monster, dibantu dengan jebakan Yoshio. Mayat alarm berserakan, sepanjang jalan penuh dengan jam rusak, jarum jam yang patah, dan segala jenis sampah lainnya.

Namun kelelahan mereka berubah menjadi kekagetan.

Jantung mereka berdebar kencang, untuk Courius sekalipun yang biasanya tenang, tatapan matanya tegang. Senjata mereka kali ini memang benar-benar senjata terbaik untuk mereka.

Angel- Bukan, replikanya, dalam bentuk boneka kosong. Tergantung dibalik jam Clock Tower yang merupakan ikon Aldebaran. Siapa sangka di balik ikon itu terdapat sesuatu yang sangat menyeramkan? Suara roda gerigi yang memukul satu sama lain menambah kesuraman tempat tersebut.

Mata boneka itu kosong. Persis saat Angel saat ini.

“Siapa yang membuatnya…?” Tanya Yoshio. Ini pertama kali ia melihatnya, sepertinya begitu pula dengan Courius.

“Aku tidak pasti… Angel pernah memberitauhku soal boneka… Tapi aku tidak tahu bentuknya,” jawab Courius sambil mengingat-ingat ucapan Angel saat itu. Saat ia sendiri masih menjadi Wizard.

”Courius, aku akan bergabung dengan guildmu, dan akan menjadi senjata bagi guild ini.”

“Di saat aku tidak berguna… Pergilah ke puncak Clock Tower, di balik jam menara itu sudah kusiapkan senjata buatan kakekku, Loki.”

“Bentuknya boneka, jadi cukup mencolok.”

“Aku masih mempunyai sifat manusia… Saat rasa takut itu menyerangku, pakailah boneka itu sebagai penggantiku…”

Courius paham akan perkataan Angel sekarang.

“Courius. Bagaimana cara menurunkannya?” Tanya Koya. “Tidak mungkin bisa diturunkan semudah itu, roda gerigi itu sangat bergantung para boneka itu, seperti katamu, jantung Clock Tower. Para roda gerigi itu memenjara boneka itu.”

Courius terdiam. Ia lalu tersenyum.

“Aku juga tidak tahu…” Ujarnya.

Mereka semua terdiam. Yoshio menatap Courius dengan pandangan bingung dan heran, tidak kurang sweat-drop di kepalanya. Koya menghela nafas.

“Koya… Kau cari Angel… Dan kembali ke sini untuk memberitahu caranya… Kita butuh boneka ini bagaimanapun caranya.”

The Reason…

April 13, 2008

“A-apa yang terjadi…?”

Mata Angel terbelalak. Istana Prontera sudah dipenuhi darah. Para penjaga semuanya tewas dalam satu serangan. Rata-rata tebasan.

“Hoi oi, apa yang sebenarnya terjadi, sih?” Tanya Angel ke dirinya sendiri.

“Pembunuhan massal, sepertinya Assassin yang melakukannya… Tebasan yang halus… Assassin Cross… Ketua asosiasi? Bukan…”

Angel menganalisis keadaan sekitar, tidak ada tebasan yang sia-sia. Yang bisa melakukannya hanyalah seseorang yang berkemampuan seperti Niigozeroku, serta kecepatan seperti Koya.

”Apa yang sebenarnya terjadi?”

BRUK!!

Mendengar ada sesuatu yang terjatuh, Angel langsung menengok ke arah belakang. Seorang petugas dokumen kerajaan terperangah melihatnya. Dokumen yang dibawanya berserakan di lantai, bercampur dengan warna darah.

“Huwaaaaaaaaaa!!!!” Petugas dokumen itu langsung lari terbirit-birit menuju arah keluar, berusaha kabur dari sang buronan. Sang pembunuh.

“Gawat… Bisa-bisa harga kepalaku dinaikkan…”

……

Sesuai dugaannya. Harga untuknya dinaikkan.

Tersangka pembunuhan massal di istana Prontera. Serta penculikan raja.

Sampai sekarang Tristan III masih belum ditemukan. Di singgasananya hanya tertinggal mahkota kerajaannya.

Angel tidur-tiduran di atap salah satu perumahan Morocc. Para penduduk tidak merasa aneh kalau merasa ada yang berlarian di atap rumahnya karena itu sudah lumrah bagi mereka.

Angel juga bisa sedikit tenang, karena biasanya penduduk Morocc tidak mempedulikan kata-kata Tristan, sehingga Angel tidak menjadi buronan di Morocc.

Angel menutupi matanya dari sinar matahari yang silau. Udara gersang membuatnya sedikit lelah.

“Aku… Mengantuk…”

Siapa aku?

Aku Angel. Aku Hallimdor.

Siapa perempuan itu?

Dia Hel. Dia ibuku.

Lalu, siapa laki-laki itu?

Dia Loki. Ayah dari Hel.

Siapa kamu?

Kamu kakakku.

Bayangan Morocc. Morocc’s Shadow.

Bukan, itu bukan kamu.

Kamu adalah pelayan dari Satan of Morocc.

Bukan juga.

Kamu… Siapa?

Angel tiba-tiba terbangun. Dirinya seperti mengingat sesuatu yang telah lama dilupakan.

“Morocc’s… Shadow…?”

“Satan of Morocc…?”

“Morocc… Kehancuran?”

Kata-kata itu terngiang di pikiran Angel. Entah kenapa ingatannya tercampur aduk.

“Aku… Hallimdor.”
.
.
.
.
“Kak Angeelll!! Bisa ambilkan mainanku yang tersangkut di atap tidak??”

Angel melongokkan kepalanya. Seorang anak kecil tengah menunjuk ke arah atap yang sedang ditempatinya.

Bola berwarna merah yang kotor kena pasir dan debu. Angel mengambilnya dan menjatuhkannya ke bawah.

“Jangan kau lempar tinggi-tinggi, nanti tidak bisa diambil.” Angel mengambilnya lalu melemparnya ke bawah. Anak kecil yang tadi memanggil Angel ekspresinya berubah menjadi senang, lalu kembali melemparkannya di udara sambil berlari ke arah pasar Morocc.

“Hhh… Siapa dia… Aku tidak bisa mengingatnya…” Angel bergumam, kembali berbaring di atas atap.

“Kakak…?”

Angel tertidur lagi. Berharap ia bisa mengingat sosok itu.

“GAAH!! AKU TIDAK BISA TIDUR DI TEMPAT YANG PANAS INI!!!” Angel tiba-tiba terbangun dan berteriak. Penghuni rumah itu hanya bisa geleng-geleng mendengar teriakan Angel yang… Bisa dibilang lebih keras dari speaker manapun.

Angel melompat kebawah, debu-debu di sekitar kakinya berterbangan, lalu dengan ia berjalan menuju Kafra, bertujuan untuk warp ke tempat yang lebih sejuk. Tapi bukan Lutie.

Dalam lima menit ia sudah sampai ke Kafra yang bertugas di sana, dan itu membuat orang yang biasanya tinggal di Morocc kebingungan.

Biasanya untuk mencapai Kafra dari luar pasar Morocc membutuhkan kurang lebih sepuluh menit karena ramainya orang-orang yang berjualan di sana, ataupun hanya duduk-duduk, tapi entah kenapa kali ini terlihat agak sepi.

“Tumben hari ini sepi.”

Seorang Huntress sedang bercakap-cakap dengan Priest yang berada di sebelahnya, sepertinya mereka berdua sedang mencari keperluan mereka untuk berburu.

“Daripada di sini lebih baik kita ke Payon, entah kenapa banyak yang ke sana.” Jawab Priest yang berada di sebelah sang Huntress. Mereka berdua langsung memakai jasa warp Kafra untuk ke Payon.

Angel melirik mereka, memang belakangan ini Payon lebih ramai, apa mungkin disebabkan karena Morroc sering terjadi gempa kecil-kecilan tiba-tiba?

Tiba-tiba Angel teringat sesuatu.

Gempa itu jelas-jelas menakutkan, seluruh perumahan di Morroc hancur, semua orang berlarian mencari perlindungan, namun banyak yang bahkan tidak bisa berdiri dari tempatnya karena guncangan dan menerima nasib tertimpa oleh batu-batuan dari rumah yang hancur. Kematian selalu tampil di ingatannya, tidak hanya karena gempa tersebut, Morroc juga diserang oleh sekumpulan monster.

“EAAAARRGHHH!!!” Angel mengerang, kepalanya terlalu sakit untuk menerima semua gambaran itu.

Begitu ia sadar, dia sudah tidak berada di Morroc, melainkan berada di tempat guildnya. Ia terduduk di sofa tempat biasa Koya bermalas-malasan.

“Ho- Hoi, suaramu besar sekali, mimpi buruk lagi?”

Angel menoleh ke arah suara tersebut, seorang Assassin berambut biru panjang berntakan menutup telinganya. Sedangkan Assassin wanita serba hitam di sebelahnya hanya terdiam.

“Aku… Kok bisa di sini? Tadi rasanya masih di Morroc…” Gumam Angel sambil melihat ke sekitar, tidak ada orang lain selain mereka bertiga.

“Angel… Angel… Memang kejadian itu sangat berat, tapi masa kau tidak bisa menahannya sih??” Tanya Koya.

“Hah?” Angel semakin bingung dengan pertanyaan Koya, “Maksudnya apa? Memangnya ada apa sih?”

“Astaga… Angel… “ Gumam Koya. “Bukan cuma kau yang tidak terima akan hal itu… Jadi jangan bersikap seperti itu, tepatnya… Berhentilah bersikap begitu.”

*Krieett…*

Terdengar suara pintu terbuka, di balik pintu itu muncul seorang High Wizard yang nampak sangat berwibawa, Courius Curius.

“Angel, kau sudah sadar? Raunganmu terdengar dari pintu depan…” Ujar Courius sambil tersenyum.

“Courius, jelaskan ke dia lagi, aku sudah lelah menjelaskannya.” Keluh Koya.

“Apa maksudmu!!” Seru Angel sambil menarik senjatanya yang selalu berada di dekatnya, Koya langsung kabur ke belakang Courius.

“Sudah satu bulan berlalu, pasti dia akan menerimanya juga…” Ujar Courius ke Koya, Niigozeroku hanya menyetujui kata-kata Courius dengan menganggukan kepalanya.

“Lebih baik kalian jelaskan dengan cepat apa maksud semua ini- Kenapa aku di sini, raasnya terakhir kali aku ada di Morroc dan…”

“Biar aku jelaskan.” Ujar Courius, ia berjalan dan duduk di salah satu bangku yang terdekat dengan tempat Angel duduk.

“Kau memang berada di Morroc, tapi itu satu bulan yang lalu.” Ujar Courius.

Angel terdiam.

“Bulan lalu, memang terjadi gempa dashyat, perumahan hancur dan banyak korban… Terlebih lagi…” Courius terdiam.

“Sepertinya kau sudah tahu Angel… Apa yang terjadi setelahnya… Dan itu yang membuatmu seperti ini selama sebulan ini.” Jelas Courius, lalu berdiri.

“Kau benar Courius…” Jawab Angel, ia menghela nafas.

“Alasannya…”

Angel meneguk ludah, terbesit ingatan-ingatan sekilas di otaknya, namun yang sangat jelas tergambar adalah… Seorang setan bersayap coklat, dengan gada yang besar di tangan kanannya.

Bayangan Morroc.

“Ada kakakku.”

Her Name…

Desember 7, 2007

Di papan pengumuman tempat menaruh informasi tentang kota, ditempel selebaran yang menyertakan foto wajah Angel.

Angel langsung membaca tulisan yang tertera di sana.

“Dicari : Seorang High Priestess
Nama : Angel
Ciri-ciri : Berambut kuning pucat, mata berwarna merah, berkulit pucat, membawa palu raksasa
Hadiah : 10.000.000 Z”

What the…?

A Life that Full of Blood

November 7, 2007

— Padang Pasir Sograt —

Sang Assassin tertawa kecil.

“Jangan meremehkan ketua, dia sudah memperkirakan bahwa kau akan menyerangku, maka dari itu…”
“Semuanya! Serang dia”

Para Assassin itu melesat ke arah Angel dengan kecepatan yang tinggi, diperintah Assassin yang sepertinya merupakan ketua dari kumpulan Assassin itu.

“Humph…”

Angel langsung melompat ke atas guna menghindari tebasan Katar yang datang bertubi-tubi.

“D-diia di atas!!” Seru seseorang di antara mereka.

Angel hanya tersenyum tipis, ia mendarat di belakang salah satu Assassin tersebut.

“Perhatikan punggungmu, itu peraturan dasar dalam sebuah pertarungan.”

Angel menghantamkan Mjollnir-nya ke arah punggung salah satu Assassin tersebut hingga Assassin itu memuntahkan darah dari mulutnya dan tumbang.

Blood…

Should I…?

Oktober 8, 2007

Seorang Priestess berumur kurang lebih 20 tahun dengan rambut kuning pucat dan mata merah, serta ekspresi cuek yang menghiasi tampangnya sedang bersender di pilar di sekitar kolam Morroc.

Tempat yang cukup ramai oleh anak-anak karena di sana ada seorang penjual es krim, yang menjawab semua keinginan anak-anak di Morroc yang panas.

Setelah itu…?

The Devil Angel

Oktober 7, 2007

Terdengar suara tangisan bayi di rumah sakit Prontera yang megah. Tepatnya, di depan rumah sakit itu.

Bayi mungil tak berdosa, sedang menangis di depan rumah sakit itu, menarik perhatian seorang perawat dan dokter yang kebetulan mendengarnya.

Ketika digendong oleh sang perawat, bayi itu tidak menangis lagi, melainkan tersenyum memamerkan gigi taringnya yang panjang. Dan membuka matanya.

Bola mata yang berwarna merah darah menatap mereka dengan senang, sebagaimana tatapan polos seorang bayi terhadap sang orang tua.

Berambut kuning pucat, berkulit putih pucat, bermata merah, dengan taring yang menghiasi bibir mungilnya.

Perawat dan dokter itu saling bertatapan, kebingungan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepala mereka

“Siapa anak ini?”
“Siapa orang yang tega membuangnya?”
“… Kenapa mata anak ini berwarna merah darah…?”

Dan yang lebih menarik perhatian mereka…

Palu dewa yang terbaring di sebelah bayi itu, yang hanya muncul di buku cerita.

Mjollnir.

Lalu…

An Ex-God, A Demi-God

Oktober 5, 2007

Pada suatu hari yang tenang di suatu tempat jauh nun di sana… Hiduplah…

STOP!! INI BUKAN FAIRYTALES!!

Here we go…

OK, mulai