Arsip untuk ‘Tales of Rune-Midgards’ Kategori

Tales of the Archers

Juni 23, 2008

“Komandan!!”

Knight berambut kuning itu tengah menghadap ke sebuah rumah di pulau yang terasa sepi. Ia menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya. Ia melirik sang Knight berambut hijau dengan tatapan tajam. Knight tersebut membawa dua orang bayi.

“… Anakmu? Kapan-“

“Komandan Xaliber!! Ini bukan anakku!!” Balas sang Knight yang tengah menggendong bayi-bayi itu.

“Aku cuma bercanda, tidak usah marah, kan?” Jawab sang komandan yang dipanggil Xaliber tanpa ekspresi.

“Ekspresimu tidak ada ‘bercanda’-‘bercanda’nya…” Batin Knight itu. Ia mengambil nafas untuk menjelaskan.

“Tadi saat kami berpatroli untuk memeriksa tempat ini, kami menemukan kedua anak ini, rasanya tidak tega kalau ditinggalkan, maka…”

“Jangan bercanda.” Xaliber menjawab. “Mana mungkin bisa ada anak ketinggalan di sini?”

“Ini buktinya.”

Mata Xaliber menatap bayi yang tengah tertidur. Tangannya menyentuh pipi sang bayi, bergantian.

Kedua bayi itu membuka matanya. Merah.

“Papa.”

Xaliber terperanjat, dari mulut kedua bayi itu keluar satu kata mengejutkan.

“Pa… Papa?”

———-

“Papaaaaa!!! Xileo nakaal!! Tadi pas ke Poring land Xilea ditinggal!!”

Gadis Archer kecil langsung menubruk sang ayah yang baru saja pulang dari Kavaleri Prontera. Belum sempat ayahnya berbicara muncul anak kecil lainnya.

“Tapi Xileo sudah bilang kalau Xileo mau balap lari!!”

Archer kecil laki-laki yang berwajah mirip dengan gadis Archer kecil tadi muncul dari sebuah ruangan.

Gaya rambut mereka berdua sama, putih, dengan poni panjang yang dibelah tengah, dan sisanya dikepang. Tinggi mereka juga tidak begitu berbeda, kembar.

Yang dipanggil ‘Papa’ hanya bisa menggaruk-garukkan pipinya tanpa ekspresi dan mengelus kepala Xilea. Xilea hanya tersenyum dan memeluk ayahnya.

“Papa~”

Xileo juga akhirnya memeluk sang Papa, yang bukan lain adalah Xaliber. Kejadian duabelas tahun yang lalu membuatnya harus mengurus bayi yang ditemuinya saat ia bertugas mengecek daerah di sebelah barat, Nameless. Masih misteri anak siapa ini sebenarnya.

Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Xaliber dari belakang, langsung saja pedang Two-Handed Sword miliknya diambil dan diacungkannya ke belakang. Mata merah Xileo dan Xilea menatap sang Monk berambut hijau dengan mata biru gelap yang indah.

“Hei-hei-hei!! Aku bukan orang jahat!!” Seru sang Monk.

“MAMA!!” Teriak Xileo dan Xilea.

“Nezq?” Tanya Xaliber.

Nezq, sang monk PRIA, menjadi batu mendadak begitu diteriaki oleh Xileo dan Xilea, anak kembar ini memang bawa masalah, pikirnya.

“MEMANGNYA SIAPA YANG JADI MAMAMU?! LAGIPULA AKU BUKAN GAY!!” Teriak Nezq kencang namun Xileo dan Xilea malah memeluknya.

“Xali… Anakmu…” Ujar Nezq, lalu Xaliber mengencangkan sepatunya, bersiap-siap mau pergi.

“Jaga anak-anak, aku mau pergi.” Lalu ia melompat ke Peco-Peconya dan kabur.

“XALIBERRRRRRR!!!!!!!!!!”

Nezq terpaksa harus menemani dua jin ini, yang bersikeras memanggilnya ‘mama’.

———-

Begitulah keseharian mereka, sang ayah tetap mengabdikan diri sebagai kesatuan Knight di Kavaleri Prontera. Sang kedua anak tumbuh dengan sehat, walaupun fisiknya seharusnya lemah karena dicurigai mengidap albino, sebagai Archer pemula. Sang ‘mama’ setia menjaga tiap kali sang ayah bertugas.

Namun hari-hari yang damai itu hilang.

Sekarang, Xaliber, tengah menghadapi dua Atroce.

Mereka berada di tengah Padang Rumput Audhumbla. Xaliber yang tidak tega meninggalkan kedua anaknya di rumah sendiri mengajaknya ikut serta untuk menyerahkan surat perdamaian.

Tapi dua anak kecil ini memang tidak bisa diam. Sekarang bahkan ia menyerang ayahnya sendiri.

“Grrh… Pa… Pha…”

Atroce yang satu menggeram, disusul yang satunya lagi. Xaliber yang hendak menebas Two-Handed Swordnya jadi tidak tega. Padahal selama ini dia sudah menebas berbagai macam monster, tapi kedua ekor Atroce kembar ini sama sekali tidak bisa dilukainya.

Sang Atroce menyabetkan cakarnya, Xaliber dengan sigap melompat tinggi, setidaknya menghindari cakaran itu, namun dia lupa kalau sang Atroce tidak sendiri.

“Endure!!”

Xaliber dengan Endure miliknya memperkuat daya tahannya, hantaman sang Atroce telak mengenai dirinya. Untung armor yang dikenakan cukup tebal, namun hantaman itu cukup keras untuk membuat Xaliber memuntahkan darah dari mulutnya.

“Xileo… Xilea…” Panggil Xaliber. Kedua Atroce sempat terhenti.

“Grrh… Pa… Pha…”

Lagi-lagi Xaliber tidak bisa. Namun… Ia tetap harus menghabisi kedua Atroce ini.

“Nameless? Wah… Hati-hati… Di sana ada semacam kepercayaan sesat… Jangan-jangan anak ini anak jadi-jadian.”
“Nezq! Jangan bicaramu! Xileo dan Xilea itu anak biasa!”
“Xaliber, bahkan kau menamainya mirip dengan namamu?”
“Yah, masalahnya aku disuruh jaga, kalau gak ada nama kan susah manggilnya.”
“Bukan itu masalahnya. Yang penting, kalau ada apa-apa aku sih ga mau bantu ya…”
“Jangan didoain makanya.”
“Semoga mereka gak berubah jadi monster ajah, kalau berubah… Sesuai dengan cirri khas Nameless Island, kita jarang bisa melihat suasana pagi harinya, kalau sudah jadi malam biasanya tidak akan berubah jadi pagi lagi…”
“Maksudnya?”
“Kalau mereka berubah. Langsung bunuh.”

“Xileo.”

Xaliber mengambil Garrison yang selalu disimpannya dalam keadaan genting.

“Xilea.”

“Maafkan…”
“Maafkan ‘papa’ ya.”

BANG!
BANG!
BANG!
BANG!
BANG!

Total lubang ke kepala Atroce itu 5. Entah siapa yang mendapatkan tiga peluru dan siapa yang mendapatkan dua.

Xaliber terdiam. Dari Iron Chain yang menutupi wajahnya, mengalir air. Ia menutup matanya.

Begitu ia membuka matanya, kedua anaknya tertidur pulas, bedanya, mereka berdua tidak bernafas. Xaliber menghampiri mereka dan mengelus dahi mereka.

“Good Night.”