Tales of the Archers

Juni 23, 2008

“Komandan!!”

Knight berambut kuning itu tengah menghadap ke sebuah rumah di pulau yang terasa sepi. Ia menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya. Ia melirik sang Knight berambut hijau dengan tatapan tajam. Knight tersebut membawa dua orang bayi.

“… Anakmu? Kapan-“

“Komandan Xaliber!! Ini bukan anakku!!” Balas sang Knight yang tengah menggendong bayi-bayi itu.

“Aku cuma bercanda, tidak usah marah, kan?” Jawab sang komandan yang dipanggil Xaliber tanpa ekspresi.

“Ekspresimu tidak ada ‘bercanda’-‘bercanda’nya…” Batin Knight itu. Ia mengambil nafas untuk menjelaskan.

“Tadi saat kami berpatroli untuk memeriksa tempat ini, kami menemukan kedua anak ini, rasanya tidak tega kalau ditinggalkan, maka…”

“Jangan bercanda.” Xaliber menjawab. “Mana mungkin bisa ada anak ketinggalan di sini?”

“Ini buktinya.”

Mata Xaliber menatap bayi yang tengah tertidur. Tangannya menyentuh pipi sang bayi, bergantian.

Kedua bayi itu membuka matanya. Merah.

“Papa.”

Xaliber terperanjat, dari mulut kedua bayi itu keluar satu kata mengejutkan.

“Pa… Papa?”

———-

“Papaaaaa!!! Xileo nakaal!! Tadi pas ke Poring land Xilea ditinggal!!”

Gadis Archer kecil langsung menubruk sang ayah yang baru saja pulang dari Kavaleri Prontera. Belum sempat ayahnya berbicara muncul anak kecil lainnya.

“Tapi Xileo sudah bilang kalau Xileo mau balap lari!!”

Archer kecil laki-laki yang berwajah mirip dengan gadis Archer kecil tadi muncul dari sebuah ruangan.

Gaya rambut mereka berdua sama, putih, dengan poni panjang yang dibelah tengah, dan sisanya dikepang. Tinggi mereka juga tidak begitu berbeda, kembar.

Yang dipanggil ‘Papa’ hanya bisa menggaruk-garukkan pipinya tanpa ekspresi dan mengelus kepala Xilea. Xilea hanya tersenyum dan memeluk ayahnya.

“Papa~”

Xileo juga akhirnya memeluk sang Papa, yang bukan lain adalah Xaliber. Kejadian duabelas tahun yang lalu membuatnya harus mengurus bayi yang ditemuinya saat ia bertugas mengecek daerah di sebelah barat, Nameless. Masih misteri anak siapa ini sebenarnya.

Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Xaliber dari belakang, langsung saja pedang Two-Handed Sword miliknya diambil dan diacungkannya ke belakang. Mata merah Xileo dan Xilea menatap sang Monk berambut hijau dengan mata biru gelap yang indah.

“Hei-hei-hei!! Aku bukan orang jahat!!” Seru sang Monk.

“MAMA!!” Teriak Xileo dan Xilea.

“Nezq?” Tanya Xaliber.

Nezq, sang monk PRIA, menjadi batu mendadak begitu diteriaki oleh Xileo dan Xilea, anak kembar ini memang bawa masalah, pikirnya.

“MEMANGNYA SIAPA YANG JADI MAMAMU?! LAGIPULA AKU BUKAN GAY!!” Teriak Nezq kencang namun Xileo dan Xilea malah memeluknya.

“Xali… Anakmu…” Ujar Nezq, lalu Xaliber mengencangkan sepatunya, bersiap-siap mau pergi.

“Jaga anak-anak, aku mau pergi.” Lalu ia melompat ke Peco-Peconya dan kabur.

“XALIBERRRRRRR!!!!!!!!!!”

Nezq terpaksa harus menemani dua jin ini, yang bersikeras memanggilnya ‘mama’.

———-

Begitulah keseharian mereka, sang ayah tetap mengabdikan diri sebagai kesatuan Knight di Kavaleri Prontera. Sang kedua anak tumbuh dengan sehat, walaupun fisiknya seharusnya lemah karena dicurigai mengidap albino, sebagai Archer pemula. Sang ‘mama’ setia menjaga tiap kali sang ayah bertugas.

Namun hari-hari yang damai itu hilang.

Sekarang, Xaliber, tengah menghadapi dua Atroce.

Mereka berada di tengah Padang Rumput Audhumbla. Xaliber yang tidak tega meninggalkan kedua anaknya di rumah sendiri mengajaknya ikut serta untuk menyerahkan surat perdamaian.

Tapi dua anak kecil ini memang tidak bisa diam. Sekarang bahkan ia menyerang ayahnya sendiri.

“Grrh… Pa… Pha…”

Atroce yang satu menggeram, disusul yang satunya lagi. Xaliber yang hendak menebas Two-Handed Swordnya jadi tidak tega. Padahal selama ini dia sudah menebas berbagai macam monster, tapi kedua ekor Atroce kembar ini sama sekali tidak bisa dilukainya.

Sang Atroce menyabetkan cakarnya, Xaliber dengan sigap melompat tinggi, setidaknya menghindari cakaran itu, namun dia lupa kalau sang Atroce tidak sendiri.

“Endure!!”

Xaliber dengan Endure miliknya memperkuat daya tahannya, hantaman sang Atroce telak mengenai dirinya. Untung armor yang dikenakan cukup tebal, namun hantaman itu cukup keras untuk membuat Xaliber memuntahkan darah dari mulutnya.

“Xileo… Xilea…” Panggil Xaliber. Kedua Atroce sempat terhenti.

“Grrh… Pa… Pha…”

Lagi-lagi Xaliber tidak bisa. Namun… Ia tetap harus menghabisi kedua Atroce ini.

“Nameless? Wah… Hati-hati… Di sana ada semacam kepercayaan sesat… Jangan-jangan anak ini anak jadi-jadian.”
“Nezq! Jangan bicaramu! Xileo dan Xilea itu anak biasa!”
“Xaliber, bahkan kau menamainya mirip dengan namamu?”
“Yah, masalahnya aku disuruh jaga, kalau gak ada nama kan susah manggilnya.”
“Bukan itu masalahnya. Yang penting, kalau ada apa-apa aku sih ga mau bantu ya…”
“Jangan didoain makanya.”
“Semoga mereka gak berubah jadi monster ajah, kalau berubah… Sesuai dengan cirri khas Nameless Island, kita jarang bisa melihat suasana pagi harinya, kalau sudah jadi malam biasanya tidak akan berubah jadi pagi lagi…”
“Maksudnya?”
“Kalau mereka berubah. Langsung bunuh.”

“Xileo.”

Xaliber mengambil Garrison yang selalu disimpannya dalam keadaan genting.

“Xilea.”

“Maafkan…”
“Maafkan ‘papa’ ya.”

BANG!
BANG!
BANG!
BANG!
BANG!

Total lubang ke kepala Atroce itu 5. Entah siapa yang mendapatkan tiga peluru dan siapa yang mendapatkan dua.

Xaliber terdiam. Dari Iron Chain yang menutupi wajahnya, mengalir air. Ia menutup matanya.

Begitu ia membuka matanya, kedua anaknya tertidur pulas, bedanya, mereka berdua tidak bernafas. Xaliber menghampiri mereka dan mengelus dahi mereka.

“Good Night.”

Replica

April 16, 2008

Angel sekarang berada di salah satu atap rumah Morroc yang tidak hancur. Bagi orang lain sangatlah mudah untuk meninggalkan Morroc, para penduduknya sekalipun, siapa yang tidak takut setelah para monster mendatangi mereka? Kecuali Angel sendiri yang melihat seseorang yang merupakan pengguna gada raksasa, walaupun bukan Mjollnir.

Ia duduk memeluk lututnya, gadanya tetap berada di sampingnya. Tatapan matanya kosong. Dirinya yang sudah menetap di Morroc mereka kehilangan tempat tinggalnya, entah kenapa ada yang mengikatnya, walaupun Morroc hancur, dirinya tidak bisa meninggalkan Morroc.

”Lebih baik kau tingal di Einbroch… Di sana ada kenalanku”

Kata-kata Courius sama sekali tidak digubris olehnya.

”Kenapa kau tidak kembali ke Prontera saja? Pada dasarnya kau masih High Priestess, kalau kau ke Gereja pasti masih di terima… Terlebih lagi tidak ada bukti kau membunuh mereka, bukan?”

Saran jadi Zero, kependekan dari Niigozeroku, juga tidak didengarkan, para perdana mentri Prontera tidak terlalu baik untuk menerimanya.

“Lagi-lagi kau terdiam seperti ini… Sudah berapa lama tidak kulihat? Sepuluh tahun? Atau limapuluh?”

Suara berat itu terdengar, Angel tidak sanggup menoleh, suara itu terlalu familiar dengannya.

“Takut? Sepertinya kau memang manusia…”

Suara berat itu terdengar makin jelas, di sampingnya. Angel menggigil, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Yang ditakuti bukanlah kekuatan asal suara yang didengarnya, bisa asja Angel melawannya dengan Mjollnir miliknya.

Namun ‘relasi’ lah yang ditakutinya.

Angel merasa ada yang memeluknya, namun yang didapatkannya hanyalah rasa dingin yang kelam. Rasa ini sering dialaminya dan Angel bisa melewatinya dengan mudah, sebagai setengah dewa, cobaan semacam ini bukanlah suatu halangan.

Namun ‘relasi’ itu membuat cobaan yang kali ini terasa lebih berat, bahkan ada kemungkinan Angel tidak bisa melewatinya sendirinya.

“Angel… Kau tidak sendirian… Masih ada kami…”

Suara itu berbisik di telinga Angel.

“Kakak…

Aku takut.”

Di belakang Angel nampak bayangan Morroc, tangan itu memeluk Angel dan sayapnya menyelubungi tubuhnya. Aura jahat serta baik bercampur di sekeliling mereka. Asap hitam muncul dimana-mana.

Morroc’s Shadow… Tipe malaikat.

“Angel, panggil namaku…” Ujarnya.

“…” Angel terdiam.

Angin panas berhembus. Tangan Angel bergerak. Mjollnirnya ia ayunkan ke belakangnya, suara sabetannya bahkan sanggup membuat seorang Novice ketakutan.

”Ilusi?” Batin Angel. Ia sendirian di Morroc, tidak ad akehidupan sama sekali.

“Lagi-lagi kau terdiam seperti ini… Sudah berapa lama tidak kulihat? Sepuluh tahun? Atau limapuluh?”

“Takut? Sepertinya kau memang manusia…”

“Angel… Kau tidak sendirian… Masih ada kami…”

“Angel, panggil namaku…”

“Itu tidak mungkin ilusi…” Ujar Angel tidak bersuara, gerak bibirnya terlihat tidak jelas.

Angel melompat turun ke bawah, meninggalkan bayangan yang sedaritadi menjaganya saat sendirian.

“Angel… Kau tahu… Rasanya sakit tidak mempunyai nama…”

Suara itu menghilang bersama angin panas Morroc. Angel tidak menoleh lagi. Lagi-lagi tubuhnya gemetaran. Benar, ia terlalu takut untuk ini. Angel berpikir, apa ini ujian dari Odin untuknya? Atau malah kejahilan kakeknya, kalau Loki adalah dalang semua ini, Angel pasti akan menghadiahkan setidaknya sepuluh pukulan untuknya.

Angel tertegun, selangkah sebelum ia keluar dari kota Morroc, terdengar raungan monster yang menyeramkan. Tapi untuk Angel, suara ini tidaklah lebih dari teriakan Condor. Suara berat khas kakaknya itu lebih menyakitkan.

“Ha…”

“Al…”

“Im…”

“Dor…”

Angel secara reflek melihat ke ara langit. Morroc yang biasanya terik sekarang terselubung kegelapan. Matanya langsung mengarah ke tempatnya yang dulunya kolam Morroc, tempat yang diduga Angel mengeluarkan suara aneh tersebut.

Mata Angel terbelalak, tidak percaya apa yang dilihatnya. Setan. Wujudnya tidak jelas seperti asap, namun mata Angel bisa melihat dengan jelas. Tubuh raksasa, dengan mata kuning yang terbuka di lengannya. Taring yang sanggup mengoyak Detale sekalipun. Bukan setan seperti yang di Glast Heim. Bukan setan segala keburukan manusia, Thanatos. Bukan setan seperti dirinya.

Setan Morroc… Satan of Morroc.

Angel langsung berbalik, setidaknya lepas dari pengaruh kota tersebut. Morroc jadi tempat penuh ilusi untuknya. Rasanya ingin Angel merusak matanya yang berwarna merah darah itu agar berhenti menghantui pikirannya, namun suara berat itu tetap saja menghantui. Andaikan Angel merusak pendengarannya, setan itu terlalu kejam dengan memberinya ketakutan lewat sentuhan.

Angel sekarang hanya ingin satu hal. Ia ingin bereinkarnasi sekali lagi. Melepas semua bebannya sebagai setengah dewa.

Di luar kota tersebut, Zero menunggu tepat di luar pintu masuk. Menunggu dengan tenang, terkadang melempar pisau untuk menghancurkan Drops yang melewatinya terus-menerus.

Kegiatannya terganggu dengan suara Angel yang keluar dari kota tersebut dengan nafas tersengal-sengal. Alamat buruk, pikir Zero. Dugaan Assassin itu benar setengahnya, tangan Angel langsung meraih bahu Zero, untuk tempatnya berdiri.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Zero sambil memapah Angel.

Angel mengambil nafas, ia berbicara tanpa mengeluarkan suara, Zero membaca gerak bibirnya.

Langsung saja Zero tersenyum tipis.

“Kau hebat…” Pujinya ke Angel, yang hanya dibalas dengan senyum masam. Tangan kirinya memegang Mjollnir.

”Aku tidak sanggup untuk melihat setan itu, bahkan untuk membayangkannya… Tetapi ia melihatnya lagi…” Batin Zero, mereka berjalan menuju kota Payon.

Sementara itu di Aldebaran…

“Kenapa kita harus inspeksi kota begini sih?” Tanya Koya, mengeluh pada Courius mengenai idenya untuk melihat beberapa dungeon, sekaligus mengecek kota.

“… Entah kau tahu apa tidak… Tapi di sini mungkin ada ‘senjata’ yang kita butuhkan…” Ujar Courius sambil melirik ke arah Koya. Tatapan dingin dan tajam itu membuat Koya terdiam. Ia belum pernah mendengar tentang senjata yang diucapkan Courius, yang ia tahu, senjata untuk guild mereka adalah mereka sendiri.

“Maksudnya, boneka?” Tanya hunter berambut hijau, Yoshio Kotake, sambil memainkan busurnya.

“Koya, sering-seringlah ngobrol dengan yang lain, kurasa hanya kamu yang tidak tahu senjata kita kali ini…” Ujar Courius, menggoda Koya yang sekarang tersenyum masam.

“Aku setidaknya tahu, kalau senjata yang dimaksudmu itu jantung Clock Tower, tapi aku tidak tahu bentuknya, itu saja.” Balas Koya sambil mencibir ke Courius.

“Kalau kau tahu pasti kau kaget.” Ujar Courius sambil memasuki Clock Tower. Mereka melewati jam tua berjalan, namun karena tidak mengganggu jadi ia biarkan begitu saja, kecuali beberapa Punk yang seenaknya menyerang mereka, dengan sihir Courius dan sabetan Koya, ditambah jebakan-jebakaa yang dipasang oleh Yoshio Kotake, untuk melewatinya bukanlah suatu tantangan.

Semakin mereka ke atas, para monster semakin agresif, alarm menyerang mereka tanpa henti, Own Duke, atau kalau lagi sial, Owl Baron turut campur dalam urusan mereka. Courius merapal sihirnya dengna cepat, beberapa kombo sihir dirapalnya. Koya menggunakan kecepatannya untuk mengecoh para monster, dibantu dengan jebakan Yoshio. Mayat alarm berserakan, sepanjang jalan penuh dengan jam rusak, jarum jam yang patah, dan segala jenis sampah lainnya.

Namun kelelahan mereka berubah menjadi kekagetan.

Jantung mereka berdebar kencang, untuk Courius sekalipun yang biasanya tenang, tatapan matanya tegang. Senjata mereka kali ini memang benar-benar senjata terbaik untuk mereka.

Angel- Bukan, replikanya, dalam bentuk boneka kosong. Tergantung dibalik jam Clock Tower yang merupakan ikon Aldebaran. Siapa sangka di balik ikon itu terdapat sesuatu yang sangat menyeramkan? Suara roda gerigi yang memukul satu sama lain menambah kesuraman tempat tersebut.

Mata boneka itu kosong. Persis saat Angel saat ini.

“Siapa yang membuatnya…?” Tanya Yoshio. Ini pertama kali ia melihatnya, sepertinya begitu pula dengan Courius.

“Aku tidak pasti… Angel pernah memberitauhku soal boneka… Tapi aku tidak tahu bentuknya,” jawab Courius sambil mengingat-ingat ucapan Angel saat itu. Saat ia sendiri masih menjadi Wizard.

”Courius, aku akan bergabung dengan guildmu, dan akan menjadi senjata bagi guild ini.”

“Di saat aku tidak berguna… Pergilah ke puncak Clock Tower, di balik jam menara itu sudah kusiapkan senjata buatan kakekku, Loki.”

“Bentuknya boneka, jadi cukup mencolok.”

“Aku masih mempunyai sifat manusia… Saat rasa takut itu menyerangku, pakailah boneka itu sebagai penggantiku…”

Courius paham akan perkataan Angel sekarang.

“Courius. Bagaimana cara menurunkannya?” Tanya Koya. “Tidak mungkin bisa diturunkan semudah itu, roda gerigi itu sangat bergantung para boneka itu, seperti katamu, jantung Clock Tower. Para roda gerigi itu memenjara boneka itu.”

Courius terdiam. Ia lalu tersenyum.

“Aku juga tidak tahu…” Ujarnya.

Mereka semua terdiam. Yoshio menatap Courius dengan pandangan bingung dan heran, tidak kurang sweat-drop di kepalanya. Koya menghela nafas.

“Koya… Kau cari Angel… Dan kembali ke sini untuk memberitahu caranya… Kita butuh boneka ini bagaimanapun caranya.”

The Reason…

April 13, 2008

“A-apa yang terjadi…?”

Mata Angel terbelalak. Istana Prontera sudah dipenuhi darah. Para penjaga semuanya tewas dalam satu serangan. Rata-rata tebasan.

“Hoi oi, apa yang sebenarnya terjadi, sih?” Tanya Angel ke dirinya sendiri.

“Pembunuhan massal, sepertinya Assassin yang melakukannya… Tebasan yang halus… Assassin Cross… Ketua asosiasi? Bukan…”

Angel menganalisis keadaan sekitar, tidak ada tebasan yang sia-sia. Yang bisa melakukannya hanyalah seseorang yang berkemampuan seperti Niigozeroku, serta kecepatan seperti Koya.

”Apa yang sebenarnya terjadi?”

BRUK!!

Mendengar ada sesuatu yang terjatuh, Angel langsung menengok ke arah belakang. Seorang petugas dokumen kerajaan terperangah melihatnya. Dokumen yang dibawanya berserakan di lantai, bercampur dengan warna darah.

“Huwaaaaaaaaaa!!!!” Petugas dokumen itu langsung lari terbirit-birit menuju arah keluar, berusaha kabur dari sang buronan. Sang pembunuh.

“Gawat… Bisa-bisa harga kepalaku dinaikkan…”

……

Sesuai dugaannya. Harga untuknya dinaikkan.

Tersangka pembunuhan massal di istana Prontera. Serta penculikan raja.

Sampai sekarang Tristan III masih belum ditemukan. Di singgasananya hanya tertinggal mahkota kerajaannya.

Angel tidur-tiduran di atap salah satu perumahan Morocc. Para penduduk tidak merasa aneh kalau merasa ada yang berlarian di atap rumahnya karena itu sudah lumrah bagi mereka.

Angel juga bisa sedikit tenang, karena biasanya penduduk Morocc tidak mempedulikan kata-kata Tristan, sehingga Angel tidak menjadi buronan di Morocc.

Angel menutupi matanya dari sinar matahari yang silau. Udara gersang membuatnya sedikit lelah.

“Aku… Mengantuk…”

Siapa aku?

Aku Angel. Aku Hallimdor.

Siapa perempuan itu?

Dia Hel. Dia ibuku.

Lalu, siapa laki-laki itu?

Dia Loki. Ayah dari Hel.

Siapa kamu?

Kamu kakakku.

Bayangan Morocc. Morocc’s Shadow.

Bukan, itu bukan kamu.

Kamu adalah pelayan dari Satan of Morocc.

Bukan juga.

Kamu… Siapa?

Angel tiba-tiba terbangun. Dirinya seperti mengingat sesuatu yang telah lama dilupakan.

“Morocc’s… Shadow…?”

“Satan of Morocc…?”

“Morocc… Kehancuran?”

Kata-kata itu terngiang di pikiran Angel. Entah kenapa ingatannya tercampur aduk.

“Aku… Hallimdor.”
.
.
.
.
“Kak Angeelll!! Bisa ambilkan mainanku yang tersangkut di atap tidak??”

Angel melongokkan kepalanya. Seorang anak kecil tengah menunjuk ke arah atap yang sedang ditempatinya.

Bola berwarna merah yang kotor kena pasir dan debu. Angel mengambilnya dan menjatuhkannya ke bawah.

“Jangan kau lempar tinggi-tinggi, nanti tidak bisa diambil.” Angel mengambilnya lalu melemparnya ke bawah. Anak kecil yang tadi memanggil Angel ekspresinya berubah menjadi senang, lalu kembali melemparkannya di udara sambil berlari ke arah pasar Morocc.

“Hhh… Siapa dia… Aku tidak bisa mengingatnya…” Angel bergumam, kembali berbaring di atas atap.

“Kakak…?”

Angel tertidur lagi. Berharap ia bisa mengingat sosok itu.

“GAAH!! AKU TIDAK BISA TIDUR DI TEMPAT YANG PANAS INI!!!” Angel tiba-tiba terbangun dan berteriak. Penghuni rumah itu hanya bisa geleng-geleng mendengar teriakan Angel yang… Bisa dibilang lebih keras dari speaker manapun.

Angel melompat kebawah, debu-debu di sekitar kakinya berterbangan, lalu dengan ia berjalan menuju Kafra, bertujuan untuk warp ke tempat yang lebih sejuk. Tapi bukan Lutie.

Dalam lima menit ia sudah sampai ke Kafra yang bertugas di sana, dan itu membuat orang yang biasanya tinggal di Morocc kebingungan.

Biasanya untuk mencapai Kafra dari luar pasar Morocc membutuhkan kurang lebih sepuluh menit karena ramainya orang-orang yang berjualan di sana, ataupun hanya duduk-duduk, tapi entah kenapa kali ini terlihat agak sepi.

“Tumben hari ini sepi.”

Seorang Huntress sedang bercakap-cakap dengan Priest yang berada di sebelahnya, sepertinya mereka berdua sedang mencari keperluan mereka untuk berburu.

“Daripada di sini lebih baik kita ke Payon, entah kenapa banyak yang ke sana.” Jawab Priest yang berada di sebelah sang Huntress. Mereka berdua langsung memakai jasa warp Kafra untuk ke Payon.

Angel melirik mereka, memang belakangan ini Payon lebih ramai, apa mungkin disebabkan karena Morroc sering terjadi gempa kecil-kecilan tiba-tiba?

Tiba-tiba Angel teringat sesuatu.

Gempa itu jelas-jelas menakutkan, seluruh perumahan di Morroc hancur, semua orang berlarian mencari perlindungan, namun banyak yang bahkan tidak bisa berdiri dari tempatnya karena guncangan dan menerima nasib tertimpa oleh batu-batuan dari rumah yang hancur. Kematian selalu tampil di ingatannya, tidak hanya karena gempa tersebut, Morroc juga diserang oleh sekumpulan monster.

“EAAAARRGHHH!!!” Angel mengerang, kepalanya terlalu sakit untuk menerima semua gambaran itu.

Begitu ia sadar, dia sudah tidak berada di Morroc, melainkan berada di tempat guildnya. Ia terduduk di sofa tempat biasa Koya bermalas-malasan.

“Ho- Hoi, suaramu besar sekali, mimpi buruk lagi?”

Angel menoleh ke arah suara tersebut, seorang Assassin berambut biru panjang berntakan menutup telinganya. Sedangkan Assassin wanita serba hitam di sebelahnya hanya terdiam.

“Aku… Kok bisa di sini? Tadi rasanya masih di Morroc…” Gumam Angel sambil melihat ke sekitar, tidak ada orang lain selain mereka bertiga.

“Angel… Angel… Memang kejadian itu sangat berat, tapi masa kau tidak bisa menahannya sih??” Tanya Koya.

“Hah?” Angel semakin bingung dengan pertanyaan Koya, “Maksudnya apa? Memangnya ada apa sih?”

“Astaga… Angel… “ Gumam Koya. “Bukan cuma kau yang tidak terima akan hal itu… Jadi jangan bersikap seperti itu, tepatnya… Berhentilah bersikap begitu.”

*Krieett…*

Terdengar suara pintu terbuka, di balik pintu itu muncul seorang High Wizard yang nampak sangat berwibawa, Courius Curius.

“Angel, kau sudah sadar? Raunganmu terdengar dari pintu depan…” Ujar Courius sambil tersenyum.

“Courius, jelaskan ke dia lagi, aku sudah lelah menjelaskannya.” Keluh Koya.

“Apa maksudmu!!” Seru Angel sambil menarik senjatanya yang selalu berada di dekatnya, Koya langsung kabur ke belakang Courius.

“Sudah satu bulan berlalu, pasti dia akan menerimanya juga…” Ujar Courius ke Koya, Niigozeroku hanya menyetujui kata-kata Courius dengan menganggukan kepalanya.

“Lebih baik kalian jelaskan dengan cepat apa maksud semua ini- Kenapa aku di sini, raasnya terakhir kali aku ada di Morroc dan…”

“Biar aku jelaskan.” Ujar Courius, ia berjalan dan duduk di salah satu bangku yang terdekat dengan tempat Angel duduk.

“Kau memang berada di Morroc, tapi itu satu bulan yang lalu.” Ujar Courius.

Angel terdiam.

“Bulan lalu, memang terjadi gempa dashyat, perumahan hancur dan banyak korban… Terlebih lagi…” Courius terdiam.

“Sepertinya kau sudah tahu Angel… Apa yang terjadi setelahnya… Dan itu yang membuatmu seperti ini selama sebulan ini.” Jelas Courius, lalu berdiri.

“Kau benar Courius…” Jawab Angel, ia menghela nafas.

“Alasannya…”

Angel meneguk ludah, terbesit ingatan-ingatan sekilas di otaknya, namun yang sangat jelas tergambar adalah… Seorang setan bersayap coklat, dengan gada yang besar di tangan kanannya.

Bayangan Morroc.

“Ada kakakku.”

The Satan

Februari 9, 2008

Chapter 3

The Satan.

Kami berdua keluar dari daerah Geffen.

Bosan… Angel hanya diam saja, yang menimbulkan suara berisik palingan hanya Poporing yang melompat-lompat. Coco yang menggigiti biji kenari yang didapatnya. Dan suara kepakan sayap Stainer. Selain itu, hanya ada suara langkah kami berdua.

Bosan…

Kalau begini, tidak ada bedanya dengan berjalan sendirian.

“Angel, bagiamana kau dapat palu itu?” Tanyaku, memecah keheningan.

Aku bisa gila lama-lama kalu berada di situasi hening seperti ini!!

“Palu ini sudah ada pas aku lahir, aku juga tidak tahu bagaimana dapatnya.”

Angel memutar-mutar gagang palu itu dengan kelima jarinya. Apa tidak berat ya?

“Angel, jangan diputar-putar dong, aku takut palunya kena aku,” ujarmu. Memang agak menyeramkan sih kalau andaikan palu itu tiba-tiba salah mendarat.

Angel langsung memegang gagang Mjollnirnya lalu membawanya seperti biasa.

Ughh… Lama-lama aku gila…

Seseorang… Bicaralah… Ay–

“Tung-tunggu, a-aku masih ada urusan.”

Aah!! Akhirnya aku mendengar ada suara seseorang!! Aku langsung menoleh.

Seorang acolyte manis. Dikelilingi oleh para lelaki yang sepertinya sedang menggodanya.

Seorang Swordman berambut merah pendek. Thief berambut coklat acak-acakan yang memakai google. Merchant dengan rambut pirangnya, wajahnya menyebalkan, sepertinya mereka semua dari guild yang sama.

Aku menoleh ke arah Angel, dia memang berhenti berjalan, tapi sepertinya tidak ada niat untuk menolong.

“Ahahaha, apa tidak apa-apa berjalan di sekitar sini? Apalagi daratan di dekat sini kan banyak monster agresifnya.”

Sang Merchant menakut-nakuti acolyte itu, memang di daerah sini tidak berbahaya sih… Tapi di dekat sini monsternya harus diwaspadai.

“Mau kami temani saja?”

Ugh… Thief itu malah tebar pesona. Padahal acolyte itu sudah menolaknya, kenapa sih?

“Ti-tidak perlu…” Ujar Acolyte berambut pirang itu, berusaha lepas dari ketiga orang tersebut.

“Tidak usah sungkan-“ Swordman itu langsung menarik tangan sang acolyte.

Aku tidak tahan melihatnya!!

“Hei kali-“

“Bisakah kalian hentikan?” Tanya Angel.

Entah karena sifatku yang suka mendramatisir atau apa, tapi aku merasa ada angin sepoi-sepoi yang bertiup.

Semuanya terdiam lagi.

Tiba-tiba Swordman itu membuka mulutnya.

“Hei, siapa kau? Beraninya memerintah kami?” Tanyanya dengan nada ‘nyolot’.

Coba di sini sepi… Aku ingin cepat-cepat membuatnya bermimpi di sini. Tapi tidak mungkin, ada acolyte itu, Angel, dan juga teman-temannya.

“Ah, kakak manis juga, mau bermain bersama kami?” Tanya sang Merchant sambil mengeluarkan senyum tebar pesona. “Setidaknya lebih baik daripada dengan Swordsman lusuh seperti itu.”

Ku-kurang ajar!! Siapa yang kau bilang ‘lusuh’?! Aku sudah tidak tahan, aku akan mengaktifkan ‘Halt’, setidaknya aku intin menumbangkan Merchant sial itu!

“He-hei… Kalau ti-tidak salah… Kakak itu…”

Thief itu berbisik sedikit ke arah si Merchant. Wajahnya agak pucat, aku hanya bias mendengar sedikit pembicaraannya.

“Aku pernah dengar tentang swordsman ini, dan aku tahu dia lebih baik dari kalian.”

Angel mengangkat Mjollnirnya.

Seekor[?] Poporing lewat.

Pemandangan yang menakjubkan.

Mjollnir itu menghancurkan Poporing malang yang tidak sengaja lewat di depan Angel, bahkan cipratan jelinya tidak terlihat. Bisa dilihat ada bunga api dan sedikit petir yang berkelibat di sekitar Mjollnir.

Tertanam di tanah.

“Apa kalian mau berakhir seperti poporing itu?” Tanya Angel. Mata merahnya menatap ketiga lelaki itu dengan tajam. Taringnya pun menambah nuansa menyeramkan di wajahnya.

Aku merinding. Tubuhku gemetar.

Itu…

Setan.

“Ba-baiklah!! Kami pergi!!”

Ketiga orang itu langsung saja lari terbirit-birit, wajarlah kalau mereka kabur. Kakiku saja sudah lemas melihatnya.

Eh?! Bagaimana dengan acolyte itu?!

Aku melihat Acolyte itu shock, tidak bisa berkata apa-apa.

“Aaah… An-angel…?”

Angel menoleh ke arah Acolyte itu. Wajah Acolyte itu ketakutan.

“Darimana kau tahu namaku?” Tanya Angel.

Sepertinya dia sudah biasa ditakuti… Aku bingung, jadi selama ini aku berjalan dengan setan!?!

Untung aku tidak macam-macam dengannya tadi… Kalau tidak, aku sudah berakhir menjadi Poporing… Eh, maksudnya, seperti Poporing tadi.

“Ah… Tidak, a-aku hanya pernah melihat wajahmu dulu… Di-di Gereja…” Ujar sang Acolyte ketakutan, tubuhnya sudah gemetar.

Bersiap-siap pergi.

“Tung-tunggu, kau mau kemana??” Tanyaku memberanikan diri. Acolyte itu kaget. Well… Orang yang berjalan bersama setan biasanya setan juga.

“Ehmm… Tenang saja, aku ini orang baik kok, aku juga tidak bawa senjata.” Ujarku sambil memperlihatkan tanganku. Untung ‘dia’ masih tertidur, kalau tidak, bisa teriak dia.

“Aah… Aku hendak ke Al De Baran… Aku harus mengantarkan sesuatu ke ketua akademi Alchemist di sana, lalu… Aku harus ke Lighthalzen…” Jelasnya, sudah agak tenang, setidaknya.

“Lighthalzen? Kalau begitu kau harus ke Juno untuk menaiki airshipnya, bagaimana kalau kau ikut kami? Kami mau ke Juno juga,” ujarku sambil tersenyum lebar.

“Ung… Ba-baiklah…” Ujarnya.

“Seperti yang kau ketahui, namanya Angel.” Aku menunjuk Angel dengan ibu jariku.

“Aku Gyakko.”

“Ehm… Aku… Hideco…” Jawabnya.

Nama yang unik…

“Kalau begitu… Kita lanjut saja, lagipula sudah ada Angel, masalah monster agresif bukan lagi sebuah mas- Eh!! Angel!! Jangan tinggalkan kami!!”

Padahal aku belum menyelesaikan kalimatku, Angel malah meninggalkan kami begitu saja. Terpaksa aku harus berlari mengikutinya.

Yah… Semakin banyak semakin baik, bukan?

The First Real Journey

Februari 3, 2008

[Chapter 2]

The First Real Journey

Tombak api itu sudah siap membakar tubuhku, aku hanya bisa terdiam.

Tidak!! Aku harus bertemu dengan Reynol.

“FROST DIVER!!”

Aku menengadahkan tangan kananku, memperlihatkan tangan kananku yang tidak terlindungi.

… Tidak terlindungi? Kurasa… Tangan kananku ini terlindungi dengan sesuatu yang sangat hebat.

Tak terkalahkan.

Mata yang semula tertutup terbuka. Menunjukkan iris mata berwarna merah darah, yang menginginkan darah sebagai makanannya.

Dari sana, muncul tombak es yang anehnya tidak berbenturan dengan tombak api tersebut.

Tombak es tersebut menyelimuti semua tombak api, langsung saja aku mengarahkan telapak tangan kananku ke arah Quin.

Mata Quin terbelalak melihat apa yang muncul di tanganku. Sesuatu yang kusembunyikan.

Mata dengan iris berwarna merah darah terlihat di tangan kananku, bukan sesuatu yang normal.

Kuharap dia akan membantuku bertarung dengan sihir.

Bukan, aku tahu benar mata ini.

Dialah yang akan bertarung!

Tombak api yang membeku tersebut mengubah arahnya ke arah Quin, dengan panik dia merapal mantra baru.

“Fire Wall!!”

Tembok api menghalangi tombak es tersebut, dan mau apalagi, sepertinya api terlalu panas untuk es.

Tombak e situ langsung meleleh, Quin langsung terduduk, tidak percaya apa yang barusan terjadi.

“A… Apa itu… Mata itu… Apa… Itu…”

Quin kelelahan, shock karena ia harus merapal mantra lebih cepat dari biasanya, serta melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat.

“Dream Making… Tidurlah, Quin…”

Aku memperlihatkan mata itu sekali lagi, mata yang setengah tertutup.

Lalu Quin ambruk, dan mata itu tertutup seluruhnya.

“Aaah… A-aku… Tidak percaya… Aku dikalahkan… Umur lima belas…”

Akhirnya dia tidak sadar sepenuhnya, sepertinya pertahanan magisnya cukup tinggi untuk dapat sadar beberapa detik.

Aku… Menang?

“Quin, aku pergi dulu… Aku sepertinya harus cepat-cepat bertemu Reynol…” Gumamku, lalu meninggalkan Quin yang tidak berdaya di daratan Geffen.

Aku melihat lagi telapak tangan kananku, matanya tertutup.

“Terima kasih…” Ujarku, lalu berjalan menuju kota Geffen.

Aku melihat ke menara Geffen, padahal aku berencana untuk memasukinya untuk ujian sebagai Wizard.

Tapi seperti yang dijanjikan Quin, kalau aku mengalahkannya, aku bisa selangkah lebih dekat dengan Professor misterius itu.

“Tuan, apa anda mau menggunakan jasa warp?”

Kafra cantik berambut coklat itu bertanya padaku, oh iya, aku baru ingat aku hendak pergi ke Juno.

“Ke…”

Begitu aku merogoh kantongku, aku baru sadar.

Uangku habis.

“Eh, maaf, tidak jadi!” Ujarku, aku langsung berjalan dengan lesu.

Uangku habis, mana mungkin aku harus mengumpulkan Jellopy dan menjualnya, itupun kalau ada yang mau membelinya.

Aku bersiul, depresi, menghadapi kenyataan yang pahit. Uangku habis, bagaimana caraku pergi ke Juno? Aku tidak mungkin berjalan ke Al De Baran, lalu ke Juno, sebelum tiba di Al De Baran bisa-bisa aku masuk Koran Prontera.

“Apa yang harus kulakukan…” Ujarku, bertanya pada diriku sendiri.

Aku melihat ke langit. Langit yang luas…

Eh, awannya lucu, ada yang bentuknya mirip Poring… Ah, yang itu mirip Lunatic…

Lho? Yang besar mirip Alarm…

Yang di…

BRUK!

“Owh, sial… Ma-maaf.” Ujarku, yang langsung berdiri.

Sial, aku menubruk seseorang… Tapi dia tidak bergeming.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya.

High Priestess dengan rambut kuning pucat panjang… Kulitnya putih dan halus.

Aku mencoba melihat wajahnya, aku mendongak karena dia lebih tinggi dariku.

Glek…

Mata merah… Dengan taring yang tajam…

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk dengan cepat, aura wanita ini menyeramkan… Aku… Aku mau pergi sekarang.

“Oh, kalau begitu, yasudah.”

High Priestess itu langsung pergi begitu saja, aura kegelapan seperti mengikutinya… Dan senjatanya…

Ukh… Aku merasa familiar… Itu…

Mjollnir…

Eh? Dia kan High Priestess, kenapa aku tidak minta tolong? Siapa tahu dia ada warp ke Al De Baran.

“Aah!! Tung-tunggu nona!!”

High Priestess itu berhenti, menoleh ke arahku.

Wah, dilihat-lihat wajahnya cantik, sepertinya dia umur duapuluhan. Wajahku sepertinya memerah sedikit.

“Enng… Bisakah kau membuka Warp Portal menuju Al De Baran?” Tanyaku, agak gugup.

Dia berpikir.

Semoga iya… Semoga iya…

“Maaf, tidak.”

AAAARGH!!!

“Ooh… Maaf, aku mengganggu…” Ujarku, walaupun wajahnya cantik, tapi seram juga melihatnya, firasatku agak tajam, wanita ini bukan sembarang orang.

“Aku mau ke Al De Baran, kau mau ikut?” Tanyanya.

“Eh, ikut?” Balasku, kebingungan.

“Yah jalan, mau apalagi, aku tidak punya uang untuk sementara ini, biayanya habis kupakai untuk memperbaiki senjataku, aku juga tidak bisa warp portal.”

Aah… Sepertinya tidak begitu melelahkan kalau ada teman, lagipula aku bisa selamat kalau ada orang yang sepertinya kuat ini bersamaku.

“Bo-boleh, kalau kau tidak keberatan!” Seruku antusias, wanita itu hanya melihatku sebentar.

“Ada baiknya kita berkenalan dulu, namamu siapa?” Tanyanya.

“G-Gyakko… Aku tidak punya marga… Memang aneh,” jawabku. Memang aneh sekarang orang yang tidak punya marga, padahal itu salah satu ketentuan untuk belajar di tempat manapun.

“Oh, tidak aneh. Aku juga tidak punya marga.”

“Eh?”

Ternyata ada juga orang yang sama denganku~~

“Aku Angel, sebaiknya kita berjalan sekarang, biar kalau sudah malam kita sudah sampai di suatu kota. Monster di malam hari jauh lebih berbahaya.”

Angel langsung berjalan menuju pintu keluar Geffen, menenteng gada raksasanya dengan ringan, bersiul pelan.

“Ah!! Tung-tunggu!!”

Aku langsung berlari mengikutinya.

Dengan begini… Aku lebih dekat selangkah lagi dengan Reynol, aku pasti akan menemukan jawaban atas pertanyaanku ini…

Pasti.

“Hei, apa tujuanmu ke Al De Baran, Angel?”

Aku bertanya saat sampai di gerbang Geffen. Kedua penjaga yang tidak terlihat lelah menjaga gerbang membuka gerbang tersebut, mempersilahkan kami berdua keluar.

“Aku mau ke Juno… Aku HARUS bertemu dengan seseorang.”

Tiba-tiba aura menyeramkan yang tadi kurasakan keluar lagi. Sebenarnya rasanya tidak asing lagi bagiku… Aura ini…

Aura seorang dewa, aku semakin penasaran dengan dirinya yang sebenarnya.

“Ahahaha, aku juga… Kalau begitu, semoga perjalanan ini cukup menyenangkan,” aku menutup pembicaraan, sepertinya akan semakin berbahaya kalau Angel terlalu bersemangat.

“Oh iya, kau tidak apa? Kau seorang Mage Knight, bukan? Kenapa tidak membawa pedang?” Tanyanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa… Apa aku harus jujur?

“Aku… Pedangku pecah saat hendak kutempa, Aragham memang mempunyai kemampuan menempa yang hebat, sayangnya dia lebih sering memecahkan barang yang ditempanya.”

Ah… Aku berbohong… Semoga ia tidak tahu…

“Benarkah?” Tanyanya, mata merahnya menusuk mata hijauku.

Jangan bilang dia tahu aku berbohong.

“Kalau begitu, semoga diperjalanan kau menemukan yang baru.” Lanjutnya.

“Ah… Semoga…”

Kenapa… Aku berbohong?

The True Strength

Februari 1, 2008

[Chapter 1]

The True Strength

Aku terduduk di bangku panjang yang terkenal di daratan Prontera, semua orang tahu tempat ini.

Dan tempat ini merupakan favoritku, karena aku bisa melihat Lunatic dan Poring yang bergembira, sedang melompat-lompat mencari makanan. Kurasa mereka lucu.

Aku menyadari seragam Swordsmanku sudah kumasukkan ke dalam lemari, bersama pakaian Novice yang kupakai beberapa tahun yang lalu.

Harusnya aku senang aku telah menjadi Knight, tapi… Perasaan ini…

Bodoh, harusnya aku tahu kalau menang dengan cara curang seperti itu tidak akan membuat senang, kalau aku sih begitu.

Aku menghela nafas sekali lagi dan tidak menyadari kalau Zero duduk di sebelahku.

“Gyakko, selamat ya.”

Aku menoleh. Seijiro Zero.

Wajah yang tidak ingin kulihat, aku malu menjadi seorang Knight dengan cara curang, padahal dimana-mana Knight adalah orang yang menegakkan keadilan.

Tapi aku? Seorang Knight yang menyedihkan.

“Kok diberi selamat malah murung? Ujian Knight itu tidak mudah loh, mendapatkan jalan pintas itu sangat membantu! Aku harap aku menang darimu saat itu, tapi sepertinya paduan kecepatan, kekuatan, dan akurasi memang tidak bisa dikalahkan.”

Zero tersenyum paksa, berusaha menahan kecewa.

Zero, jangan pasang wajah seperti itu… Aku…

“Zero, aku minta maaf.”

Suaraku bergetar, aku bukan sedang menahan tangis, aku hanya…

“Aku tidak pantas menjadi seorang Knight…”

Tsk. Memang perasaan malu ini tidak bisa kubendung lagi, mana ada Knight yang menangis di hadapan seorang Swordsman?

“Aku…”

“Hentikan, Gyakko.”

Zero memotong ucapanku, matanya yang tajam… Mata yang kuinginkan, bukan mata hijau yang lemah ini.

“Zero… Ajarkan aku berpedang…” Ujarku lirih.

Zero menatapku kaget, dia kebinguanan. Dikepalanya berputar pertanyaan bagaimana seseorang yang dengan lihai mengalahkannya dengan teknik pedang yang tidak bisa dibilang mudah meminta ajaran berpedang.

“Hoi, mana mungkin aku bisa mengajarimu berpedang, kau saja sudah hebat, lebih baik kau minta Tuan Seyren Windsor sana.”

Zero sepertinya merasa diremehkan, dia tidak memberikanku kesempatan berbicara.

“Zero!! Tunggu!!”

Aku bangkit, berusaha menyusul Zero.

Tidak bisa, kakiku berat, seperti ada sesuatu yang menahannya.

”Zero…”

Dia menghilang dari pandanganku, aku kembali terduduk lagi.

Kepada siapa aku bisa belajar berpedang? Zero tidak mau mengajarkanku… Tuan Seyren… Bisa-bisa aku tidak selamat sebelum menemuinya.

“Tuan Seyren… Kapan aku bisa belajar berpedang langsung kepadanya…” Aku menunduk, memainkan jari-jariku.

Aku berdiri dari bangku taman tersebut, meninggalkan Bastard Sword milikku.

Aku tidak pantas memakai pedang tersebut, terlalu berat.

Mungkin aku akan mengganti senjataku dengan tongkat sihir. Lebih menyenangkan.

Kata temanku, kalau kau tidak bisa berpedang, pasti kau mempunyai bakat di sihir, mungkin aku punya bakat itu.

Aku tersenyum, berjalan menuju kota Geffen yang jauh sambil tersenyum.

… Satu tahun kemudian …

Haah… Haah…

“Gyakko?? Ini baru latihan awal, dan kau masih belum bisa menciptakan lima bola api sekaligus?”

Aku melihat ke suara wanita tersebut. Seorang Magician dengan rambut merah muda pendek. Dia adalah pelatih para Magician yang baru lulus.

Dengan seragam Magiciannya yang terbuka, ia bahkan tidak berusaha menutupinya seperti wanita pada umumnya, terkadang mereka memakai aksesoris tambahan, tapi tidak dengan wanita satu ini.

Mata coklatnya memantulkan cahaya api yang baru saja dibuatnya. Karena rekomendasi dari Kavaleri Prontera, dia timina untuk mengajar privat untukku.

“Gyakko, kau mau jadi Mage Knight?” Tanyanya.

“Begitulah… Nona Elementum…”

“Gyakko, panggil aku ‘Quin’, cukup dengan itu,” ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Quinque Elementum… Quin… Queen… Ratu.

“Hana, kenapa kau bisa mengira seperti itu? Aku kan…-“

Aku terdiam, tiba-tiba teringat sesuatu.

“Bagaimana tidak? Seorang Knight dengan teknik berpedang yang indah, mengalahkan musuh dalam sekejap! Kalau dia menguasai sihir juga, dia akan jadi orang terkuat!” Serunya.

Dasat tidak sadar umur, walaupun wajahnya masih berkisar seperti duapuluhan, aku berani bertaruh umurnya nyaris tiga puluh lima.

Kami berlatih di daratan Geffen, dikelilingi dengan Fabre, Pupa, Poring, serta Chon Chon yang menimbulkan suara berisik. Agak kasihan juga melihat mereka terpanggang dengan api buatan Quin.

“Quin, ngomong-ngomong…”

“Gyakko, kau masih belum bisa mengeluarkan bola api juga?? Itu hal yang sangat mudah kalau kau berkonsentrasi!” Serunya.

Aku terdiam. Masih melihat ke tanganku. Tangan kananku yang sangat berharga.

“Kau lihat apa sih?” Tanya Quin, sambil melihat ke arah telapak tangan kananku. Secara reflek aku langsung menyembunyikannya.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Aku menyembunyikannya.

“Ehehehe… Jangan menyembunyikan sesuatu dari gurumu ini… Apa yang kau lihat tadi? Pemberian pacarmu ya??”

… Enak saja…

Yang aku sembunyikan itu…

Di telapak tanganku, akan ada terdapat suatu garis samar-samar… Seperti sebuah mata yang tertutup, dan bila aku mengaktifkan sihirku…

Dia akan terbuka, dan membuatku bisa mengeluarkan sihir.

“Oh iya, Quin, kau tahu seorang professor yang namanya…”

“Reynol Veneficus?” Tanyanya.

Seorang Magic Master bisa membaca pikiran rupanya…

“Semua orang pasti akan mencarinya, dia adalah seorang yang mempunyai kemampuan otak di atas rata-rata. Walaupun daya sihirnya lebih lemah dariku, masalah strategi sihir, dialah yang paling hebat.” Jelas Quin.

Pantas semua orang mencarinya.

“Begini Quin, aku berharap bisa bertemu dengannya, ada yang mau kutanyakan kepadanya.” Jelasku.

“Percuma. Kau tidak akan bisa mencapainya, aku saja… Tidak pernah bertemu dengannya lagi.”

Pandangan Quin menjadi muram, bola api yang tadiya terang meredup. Hilang.

“Quin… Memangnya kenapa?”

“Cara untuk menemuinya sangat sulit, dia tidak pernah berada di lokasi yang sama, dia pasti berpindah-pindah. Kabarnya kemarin baru saja dia berangkat ke kotanya, Juno. Hari ini kudengar dia sedang piknik di Amatsu,” jelasnya.

Pantas saja… Seorang Professor ahli strategi sihir, bila dirinya ditangkap oleh organisasi hitam, pastilah Rune-Midgard akan berada di bawah baying-bayang kegelapan.

Tsk.

“Tapi aku tahu satu cara untuk lebih dekat satu langkah dengan Reynol.”

Quin tersenyum.

“Kalahkan aku dalam sihir, aku yakin, mempunyai potensi untuk menemuinya.”

Quin menciptakan bola api, lebih terang dan lebih panas dari biasanya.

Aku meneguk ludah.

Semenjak aku meninggalkan kavaleri Prontera, aku ke Geffen, dan mengira aku mempunyai sedikit bakat dalam sihir karena aku berhasil lulus dalam ujiannya tanpa menggunakan sihir pembuat mimpi tersebut.

Tapi… Untuk melawan seorang Magic Master… Aku tidak mungkin sanggup!!

Bagaimana ini… Apa yang harus kulakukan…?

Aku… Aku tidak mau menggunakan sihir pembuat mimpi ini… Karena sama saja aku tidak akan maju selangkah menuju Reynol.

“Hwaaa!!!”

Aku menghindar rentetan bola api yang dilemparkan kepadaku. Kakiku gemetar.

“Hei, Quin… Sepertinya tidak bisa secepat ini… Aku butuh latihan… Aku saja masih belum bisa membuat bola api.” Ujarku, aku tidak mungkin bisa menang dalam keadaan seperti ini!!

“Ini kesempatanmu, kalau kau tidak mengalahkanku sekarang… Kau tidak akan maju selangkahpun.” Jelasnya, tangannya membuat lingkaran sihir di udara.

“Fire bolt.”

Aku mendongak begitu mendengar ucapannya. Sepuluh tombak api sedang mengarah tepat ke arahku.

Apa aku harus terbakar di tempat ini?

Aku…

I’m Strong. But I’m weak

Januari 29, 2008

“Wuaah… Gyakko hebat, tes praktek menjadi Knight bisa dilewatkan dengan mudah!!”
“Gyakko!! Tes Wizardpun kau lewati dengan mudah?? Padahal aku harus mengulang tiga kali!!”
“Selamat Gyakko, sekarang kau sudah menjadi Mage Knight! Sebagai pengujimu, aku turut bangga!!”

Bodohnya…

“Senior Gyakko!! Ajari aku untuk memberi sihir pada pedang dong!!”
“Senior!! Cara untuk melakukan sihir ini dengan benar bagaimana??”
“Kak Gyakko!! Apa gerakanku sudah benar??”

Lebih bodoh lagi…

Mereka tidak tahu siapa yang mereka ajak bicara, aku berharap mereka bisa mengerti diriku, namun…

Kurasa itu percuma, mereka hanya mementingkan kehebatan. Lulus menjadi Mage Knight dalam usia seperti ini memang sangat langka.

Padahal… Aku benar-benar ingin dimengerti…

Sebenarnya aku…

Just A Dream… Right?

Januari 3, 2008

“Puas?”

Seorang pemuda remaja yang berjaket coklat beradapan dengan pemuda remaja lainnya yang mamakai kaus putih biasa. Raut wajah yang menggambarkan kemarahan itu menunjukkan perasaan sang pemuda berjaket, tangannya dikepalkan, menahan diri agar tidak melayangkan kepalan tangan itu ke pemuda yang berada di depannya sekarang. Pemuda lainnya hanya bisa terdiam.

”Padahal udah gw bilangin, tapi tetep ajah lu lakuin. Gw udah ga mau ngeliat muka lu lagi! ”

Pemuda berjaket itu langsung berjalan pergi, memunggungi pemuda lainnya yang masih terdiam.

”Apa itu… Beneran salah gw?” Gumam pemuda berkaus putih itu, sambil memandangi langit.

Penyebabnya terjadi baru-baru ini.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

”Eh, Ka, gw mau cerita sesuatu nih. ”

Pemuda berbadan tegap yang memakai jaket coklat itu duduk di sebelah pemuda berkulit coklat dengan seragam sekolahnya. Jari telunjuk dan jari tengahnya menyelipkan sebatang rokok yang mengeluarkan asap.

”Rakaaaaa, gw serius, kok ga ditanggapin sih? ”

Pemuda yang dipanggil Raka menghembuskan kepulan asap dari mulutnya, lalu melihat ke arah si jaket coklat itu.

”Apaan sih, Rud? Jangan bilang lo mau bilang barusan ulangan IPA dapet 100, gw ga ada waktu buat dengerin cerita aneh. ”

Raka berdiri, menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu hitamnya.

”Ehm… Gi-gini, gw ga tau mau cerita ke siapa, secara lu temen yang bisa gw ajak cerita yah… ”

”Rudi. Langsung ajah cerita, jangan bertele-tele.” Raka memotong dengan cepat.

”Err… Lo tau Indah, kan’? ” Tanya Rudi sambil memainkan ujung jaketnya.

”Iya, gw tau kok, tau banget malahan, dia kan primadonanya sini, siapa sih yang ga tau? ” Tanya Raka sambil tertawa, dilajnutkan dengan memukul punggung Rudi.

”Sialan lo. I-Iya, gw suka dia dan kemaren… Gw nembak dia, ga langsung sih, cuman lewat chatting, abisnya gw ga tau mau naro muka di mana kalo langsung… ” Gumam Rudi. Raka hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti.

++++++++++++

Raka Widjojo : Aduh, mati gw, hari ini gw diceritain kalo misalnya… Temen gw, yang Rudi itu nembak Indah. Padahal gw juga ada rencana gitu…

Dream Maker : Terus? :swt: Mau gimana lagi? Cuek ajah lagi…

Raka Widjojo : Bukan gitu… Gw pernah nanya, “Gimana kalo misalnya gw nembak Indah?” Nah, dia bilang kalo asmpai itu terjadi, dia ga bakalan mau lagi ngomong sama gw. Paham dikit doong…

Dream Maker : Maunya gimana? Gw samperin dia, terus bilangin dia jangan sampe dia benci lo

Raka Widjojo : Ya engga!! Maksudnya, kasih pendapat dong!!

Raka Widjojo : Biar gw bisa nyampein perasaan gw ke Indah, tapi gw ga dibenci!!

Dream Maker : No pain no gain… Pilih salah satu Ka… Jangan maunya dua-duaan… Jangan pikir ini dunia utopia ato dunia mimpi…

Raka Widjojo : …

Raka Widjojo : Ga guna gw cerita sama lo. Bukannya dukung malah mojokkin gw

Raka Widjojo [Offline]

++++++++++++

“Indah, gw suka lo.”

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Dream Maker : Hei, lagi marahan ya?

rudireadz : Eh, siapa nih?

Dream Maker : Dream Maker. Pembuat mimpi.

rudireadz : Gw sibuk belajar nih, bisa ga usah bercanda?

Dream Maker : Ini bukan candaan. Gw yakin lu pasti lagi dendam sama seseorang sampai ga mau liat lagi orangnya. Gw bisa kasih satu penawaran menarik.

rudireadz : Penawaran apa?

Dream Maker : Kalo beneran kesal… Coba bunuh dia, tapi di dalam mimpi, jadi bisa mastiin benernya lo beneran benci dia apa engga.

rudireadz : Kalo ga dikekang sama hukum, gw udah bunuh dia kapan-kapan!!

Dream Maker : Yah… Walaupun mimpi… Terasa nyata loh…

Tiba-tiba Rudi merasa ngantuk, walaupun di depannya monitor masih menyala, ia terlelap. Membiarkan sang pembuat mimpi melihatnya melalui monitor…

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

“Gila, dimana ini?” Tanya Rudi. Melihat ke sekitar, yang dia lihat hanyalah tanah gersang yang kering. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

“Rudi?”

Merasa namanya dipanggil, ia langsung menoleh ke belakang. Sosok yang dibencinya muncul, sosok Raka. Kemarahannya memuncak.

Ga puas ya lo ngancurin hidup gw?? Sampe di alam mimpi masih diikutin!!” Rudi hilang kesabaran.

“Rud- Rud!! Jangan marah dulu Rud!!”

Gw udah ga tahan!! Walaupun ini hanya mimpi, kalo gw bisa bunuh lo, itu udah puas buat gw!!!”

Mungkin karena di alam mimpi, asng pemilik bisa melakukan apa saja. Tiba-tiba tangan Rudi berubah. Cakar monsterlah yang dilihatnya, bukan lagi tangan kanannya.

Tanpa mempedulikan segala hal aneh itu, Rudi melampiaskan kekesalannya dengan mencabik-cabik Raka yang tidak bisa apa-apa. Semakin lama tubuh Rudi semakin berubah, menjadi sesosok monster buas yang mengerikan, dengan taring dan cakar di kedua tangannya, mencabik tubuh Raka yang hanya bisa berteriak kesakitan, cakar itu berlumurkan darah.

Raka yang semulanya berbentuk manusia, sudah menjadi seonggok daging tak berbentuk.

“…”

Kesadaran Rudi yang telah menjadi monster menipis… Hingga akhirnya dia sadar.

”Gila, beneran kerasa… Puasnya juga, untung ini cuma mimpi…”

Rudi langsung turun, kebetulan akhir minggu, jadi dia menunda dulu acara mandinya.

Tapi begitu turun, ibunya bukannya menyiapkan sarapan malah termangu di depan TV.

“Bu, ada apa sih? Serius banget…”

“Rud, sini deh, sekarang kok banyak kejadian aneh ya? Di TV katanya ada orang meninggal mengenaskan, kayak dicabik-cabik, udah bukan bentuk orang lagi!!” Seru ibunya.

Rudi kaget, lalu ia ikutan menonton TV tersebut.

Menurut berita, mayat yang sudah tidak berbentuk itu seorang siswa SMU, sekolah di tempat yang sama dengan Rudi, namanya…

Raka Widjojo.

From Us…

Desember 31, 2007

Ini cuman FanFic gak jelas dari semua char originalku yang kupake di beberapa RP ^-^ Silahkan menikmati~

apaan sih?

Her Name…

Desember 7, 2007

Di papan pengumuman tempat menaruh informasi tentang kota, ditempel selebaran yang menyertakan foto wajah Angel.

Angel langsung membaca tulisan yang tertera di sana.

“Dicari : Seorang High Priestess
Nama : Angel
Ciri-ciri : Berambut kuning pucat, mata berwarna merah, berkulit pucat, membawa palu raksasa
Hadiah : 10.000.000 Z”

What the…?